ABRAHAM GENTA /RADAR JOGJA
PADAT MERAYAP: Mobil dan pejalan kaki memadati sepanjang Jalan Malioboro kemarin (10/7). Wisatawan asal luar Kota Jogja menghabiskan liburan hari terakhir untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan di ikon wisata budaya yang menjadi pusat ekonomi Provinsi DIJ itu.
JOGJA – Pantas saja aksi pemalakan oleh juru parkir (jukir) liar hampir selalu terjadi di kawasan Malioboro setiap musim liburan. Seperti menjelang dan selama Lebaran kali ini. Ternyata, kantong parkir yang disediakan pemerintah memang tidak me-madai.

Sulitnya memperoleh tempat parkir sudah barang tentu berbuntut pada kemacetan arus lalu lintas. Juga memicu munculnya area parkir liar. Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Muhammad Fursan khawatir jika kondisi itu tak segera dibenahi bukan saja akan berdampak buruk pada wisatawan. Tapi bagi warga Kota Jogja dan DIJ secara umum. Citra Jogjakarta sebagai ikon wisata budaya akan rusak di mata wisatawan.

Apalagi, masalah parkir liar tak hanya terjadi di Ma-lioboro, yang tarif parkir mobil bisa mencapai Rp 20 ribu. Parkir di luar Taman Rekreasi Gembira Loka lebih parah lagi. Mobil dikenai Rp 25 ribu dan bus Rp 50 ribu
Demikian pula di Hutan Pinus, Mangunan, Dlingo, Bantul. Sesuai karcis parkir di objek wisata alam itu, mobil dihargai Rp 10 ribu, sepeda motor Rp 3 ribu, bus Rp 20 ribu. Bahkan, untuk berfoto pre wedding atau kegiatan foto-grafi dikenai Rp 50 ribu. “Jangan sampai muncul um-patan, ngapain ke Jogja kalau cuma macet, parkir mahal,” ingatnya kemarin (10/7).

Lambat laun tingkat keparahan lalu lintas kawasan Malioboro bakal sulit dikendalikan. Apalagi, jika jalan tol Jawa selesai, akses menuju Kota Jogja dan Jawa Tengah kian mudah. Letak Kota Jogja yang berada di tengah, lanjut dia, akan lebih me mudahkan warga di Jawa bagian barat atau timur berlibur ke Jogja.

“Dampaknya langsung terasa bagi Kota Jogja. Apalagi jika tol sudah tersambung Brebes ke Semarang, Solo-Kertosono,” kata Fursan.

Mengelola lahan parkir di Ma-lioboro memang ibarat buah simalakama. Kepala Unit Pe-laksana Teknis (UPT) Malio-boro Syarif Teguh Syarif menga-kui bahwa lahan parkir di seki-tar Malioboro seolah sangat ter batas saat menghadapi mu-sim liburan.

Sehingga tak mam-pu menampung lonjakan jum-lah kendaraan pe ngunjung. Namun sebaliknya, saat hari biasa, tempat parkir itu lowong. Syarif sebenarnya telah meman-faatkan area lantai tiga Tempat Parkir Abu Bakar Ali untuk me-nampung kendaraan roda empat. Meskipun tempat itu seharusnya untuk parkir sepeda motor. Se-bagian mobil pribadi wisatawan juga ditampung di area Pasar Sore Malioboro. “Tapi tetap tidak mampu me-nampung,” katanya.

Karena itulah, saat puncak libur Lebaran banyak wisatawan ter-paksa memarkir kendaraan di luar lokasi yang telah ditentukan pemerintah. Nah, di situlah jukir liar beraksi. Mereka memanfaat-kan kegelisahan pengunjung yang tak jua memperoleh tempat parkir.

Ironisnya, hal itu seolah justru menjadi tradisi tiap musim libur. Sementara, hingga sekarang pemerintah belum menemukan solusi ampuh dalam menjaga Jogjakarta agar tetap nyaman sebagai tempat kunjungan wisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Jogja Eko Suryo Maharsono berencana memanfaatkan lahan tidur di sekitar Malioboro untuk me ngatasi keterbatasan area parkir.Tapi, hal itu hanya bersifat insendentil. Artinya, hanya difungsikan saat kantong parkir yang tersedia tak mampu lagi menampung kendaraan wisa-tawan.

“Memang seharusnya seperti apa yang disampaikan Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X). Mobil besar tidak boleh masuk Kota Jogja. Di ganti dengan mobil kecil,” katanya.

Kebijakan tersebut memang bakal berdampak langsung bagi wisatawan. Sebab, mereka harus merogoh kocek lebih dalam un-tuk biaya sewa kendaraan kecil.

“Ya, mungkin itu yang harus dipikirkan bersama. Dibuat kebijakan yang bisa holistik. Menjawab semua persoalan yang ada. Tanpa menimbulkan masalah baru,” kata mantan Asisten Sekretaris Kota (Assekkot) II Bidang Pembangunan dan Perekonomian itu. (eri/yog/ong)