GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
HALALBIHALAL: Gubernur DIJ HB X didampingi GKR Hemas, Wagub Paku Alam X dan BRAy Atika Suryodilogo, bersalaman dengan warga dalam open house di Bangsal Kepatihan, Jogjakarta, Senin (11/7).
JOGJA – Hari pertama masuk kerja di Pemprov DIJ kemarin (11/6) diisi dengan halalbihalal bersama Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X dan Wakil Gubernur (Wagub) DIJ KGPAA Paku Alam (PA) X. Selain PNS, open house di Kepatihan juga diikuti masyarakat umum.

Wakil Ketua DPRD DIJ Arif Noor Hartanto beserta istri dan putranya menjadi orang pertama yang bersilaturahmi dengan HB X, GKR Hemas, PA X, dan GBRAy PA X.

“Saya memposisikan diri sebagai pimpinan dewan dan warga Jogja yang bersilaturahmi ke pimpinan daerah,” ujar Inung, sapaannya, kemarin.

Bukan kali ini saja Inung mengikuti open house di Kepatihan. Setelah tujuh tahun menjadi anggota DPRD DIJ, dia selalu menyempatkan mengikuti open house Gubernur dan Wagub DIJ. Menurutnya, silaturahmi tersebut sebagai bentuk komunikasi yang lebih cair.

“Sehingga jika ada kritik dari anggota dewan atau idealisme pembangunan dari eksekutif bisa dijembatani,” tutur politikus PAN itu.

Selain Inung, dalam open house yang hanya berlangsung dua jam dari pukul 09.00-11.00 itu juga terlihat Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo dan Rektor UGM Dwikorita Karnawati. Mereka ikut antre bersama ribuan masyarakat DIJ maupun pemudik yang khusus datang untuk bersilaturahmi dengan Gubernur dan Wagub DIJ.

Salah satunya Rendi, pemudik asal Bandung. Saat berjalan-jalan di Malioboro, dia mendapat informasi diadakannya open house Gubernur. “Senang juga bisa berjabat tangan dengan Pak Sultan, biasanya raja kan sulit ditemui,” ujar Rendi yang datang bersama lima anggota keluarganya.

Jika Rendi kebetulan lewat, beda dengan Edi Suharso, yang mengaku setiap tahun selalu mengikuti oepn house Gubernur DIJ. Warga Jogonegaran, Jogja ini juga mengaku merasa nyaman setelah berjabat langsung dengan Gubernur DIJ sekaligus Raja Keraton Jogja itu. “Teng ati rasane tentrem. Plong kalau sudah ketemu Ngarso Dalem,” tuturnya.

Selain bisa bersalaman langsung dengan HB X dan PA X beserta permaisuri, masyarakat yang datang juga disuguhi berbagai macam suguhan. Seperti bakmi Jawa, bakso, soto ayam, nasi liwet, dan aneka jenang.

“Perkiraan tamu yang datang sekitar tiga ribu orang, kami jamu dengan makanan khas Jogja,” ujar Kepala Biro Umum dan Protokol Pemprov DIJ Hariyanta.

Sementara itu, halalbihalal juga digelar di DPRD DIJ, kemarin (11/6). Budayawan Emha Ainun Najib hadir sebagai pembicara.

“Halalbihalal atau apapun istilahnya hanya ada di Indonesia. Kegiatan tersebut merupakan tradisi kultural khas Indonesia yang terus ditradisikan tiap tahun. Kalau di Arab ada halalbihalal, bisa dipastikan yang menggelar orang Indonesia,” ujar Cak Nun, sapaannya.

Di belahan negara lain, lanjutnya, tidak ditemukan tradisi halalbihalal. Bagi Cak Nun, halalbihalal tidak terkait dengan ajaran Islam, tapi budaya khas di Indonesia. Dia menyebut, tradisi halalbihalal dimulai pada zaman Presiden Soekarno, yang dimulai sejak KH Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturrahmi.

“Tapi, Bung Karno ingin istilah lain dan disarankan menggunakan halalbihalal yang dipakai sampai saat ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu Cak Nun mengajak untuk merenungkan arti kata fitri. Menurutnya kata fitri memiliki dua pengertian, yaitu yang pertama kembali ke orisinalitas atau kembali ke asalnya. Sedanhkan arti fitri yang kedua yaitu makan. “Setelah puasa 30 hari terus mbadog, itu ya kembali fitri, kembali makan,” ujarnya.

Pria asal Jombang itu juga mempertanyakan Idul Fitri yang disebut hari raya, merayakan apa? “Saat akan ditinggal Ramadan ngakunya sedih, tapi pas lebaran ikut merayakan,” sindirnya.

Untuk itu Cak Nun mengingatkan jika puasa tidak hanya pada bulan Ramadan saja. Menurut alumni SMA Muhammadiyah 1 Jogja itu, puasa itu berarti menahan atau ngempet. Menahan dari mengambil hak anak cucu.

“Mau menambang pasir besi, emas, minyak seberapa banyak? padahal itu hak anak cucu, kalau diambil semua mereka dapat apa nanti, makannya harus ngempet. Puasa,” tegasnya. (pra/ila/ong)