JOGJA – Keluhan masyarakat pengguna parkir Malioboro yang di-thuthuk dengan tarif berlipat-lipat sudah ditindaklanjuti dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja. Tapi, dishub tak bisa berbuat banyak. Sebab, juru parkir (jukir) yang menarik tarif gila-gilaan itu bukan jukir resmi.

“Mereka ada ketika mobil mau parkir. Kami selalu kucing-kucingan. Tak pernah ketemu dengan informasi yang ada di media sosial tersebut,” tandas Kepala Dishub Kota Jogja Wirawan Haryo Yudo di Balai Kota Jogja, kemarin (11/7).

Wirawan menjelaskan, setiap ada keluhan yang mereka ketahui, dishub langsung tindaklanjuti dengan terjun ke lapangan. Tapi, tak menemukan jukir yang dikatakan menarik tarif sampai Rp 20 ribu tersebut. “Mereka itu jukir liar. Tidak masuk pelanggaran karena bukan jukir resmi,” ujarnya.

Karena jukir liar ini, lanjut dia, polisi bisa mengenai pidana pemaksaan kepada jukir. Terlebih, selain jukir tersebut tak resmi, juga tak disertai dengan bukti karcis parkir. Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengimbau bagi warga dan wisatawan yang dipalak tarif parkir yang tak sesuai ketentuan untuk segera melaporkan.

“Silakan berikan laporan resmi. Kami telah koordinasikan dengan kepolisian untuk menindak tegas,” ujar HS, sapaannya.

HS mengatakan, penarikan tarif parkir itu masuk dalam pungutan liar. Jika merujuk bahasa di KUHP pasal 368 ayat 2, itu bisa masuk kategori pemerasan. Ancaman hukumannya bisa dikenai sampai 12 tahun.

“Kami kesulitan jika tidak ada laporan resmi. Begitu pun kepolisian. Kalau memang ada yang ditarik sampai Rp 20 ribu segera lapor,” pinta HS.

Pengendara mobil tak perlu khawatir. Terlebih, saat ini peralatan sudah sangat canggih. Ada handphone yang bisa untuk merekam video maupun memotret. “Gunakanlah itu, biar kepolisian juga bisa cepat menindaklanjuti,” katanya.

Tanpa ada laporan resmi dari korban, kata HS, akan sangat sulit untuk mengungkap praktik parkir nakal tersebut. Sebab, saat dilakukan razia, mereka ini bukanlah jukir. “Kami tanyakan, mereka jelas tidak mengaku,” ungkapnya.

Berbeda jika masyarakat yang menjadi korban tersebut mengantongi bukti berupa video atau foto tersebut. Laporan yang masuk, bisa mereka arahkan ke Polresta Jogja. Kemudian, polisi yang akan menindaklanjuti.

“Kami sangat mendorong masyarakat untuk ikut aktif. Agar, pelaku tindak pemerasan seperti ini bisa mendapatkan efek jera. Karena, sangat merugikan pariwisata di Kota Jogja,” ajaknya.

Selama ini, keluhan dari masyarakat memang belum sampai menjadi laporan resmi. Mereka sebatas mengeluh di media sosial. Dari informasi di media sosial tersebut, parkir liar ada di kawasan sirip Malioboro.

Modus jukir liar ini biasanya keluar saat ada mobil yang kebingungan mencari tempat parkir. Mereka kemudian memberikan aba-aba kepada mobil tersebut. Kemudian, langsung meminta pengendara membayar saat itu juga. Tanpa disertai dengan karcis parkir. (eri/ila/ong)