MASALAH juru parkir (jukir) liar yang mematok tarif jauh dari yang telah ditetapkan, Rp 20 ribu untuk kendaraan roda empat, menimbulkan kecemburuan bagi juru parkir (jukir) di taman khusus parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA). Apalagi, ini merupakan Lebaran pertama yang mereka jalani sebagai juru parkir di ABA pascarelokasi.

“Tahun ini kami tidak Lebaran dulu,” sesal Ketua Forum Komunikasi Petugas Parkir Jogjakarta Ignatius Hanarto, kemarin (12/7).

Hanarto mengungkapkan, untuk Lebaran kali ini, penghasilan mereka jauh mengalami penurunan. Lebaran tahun lalu mereka bisa mengantongi penghasilan sampai Rp 200 ribu per hari. “Sekarang ya bersyukur, masih bisa bawa pulang Rp 50 ribu,” kelakarnya.

Dia mengatakan, ada beberapa jukir di TKP ABA yang sebenarnya berkeinginan untuk memilih membuka parkir di sirip Malioboro. Mereka melihat jukir yang tak resmi malah lebih mudah mencari uang.

“Mereka tidak ditertibkan. Mau narik tarif berapa pun juga boleh. Pasti, siapa yang tidak tertarik (mengikuti)?” katanya.

Tapi, hal tersebut urung terlaksana. Jukir di ABA akhirnya tetap kompak untuk berada di sana. “Sampai hari ini, jumlah personel tetap lengkap. Teman-teman sudah sepakat akan menunggu solusi dari pemerintah yang bisa membantu,” tandasnya.

Dari pantauan Radar Jogja pada H+6 kemarin, pengunjung Malioboro sudah berkurang drastis. Tidak seperti pada H+5 yang masih padat. Otomatis, kendaraan yang mencari tempat parkir pun lebih mudah. Karena masih banyak lahan yang kosong di Jalan Perwakilan, Jalan Ketandan, dan Jalan Pajeksan.

Namun, sayangnya berbagai persoalan mulai dari tarif parkir yang melangit sampai masalah angkutan bagi pemudik belum akan dievaluasi. Pemerintah dan kepolisian baru melakukan evaluasi usai liburan sekolah. Atau pada pekan depan.

“Selama sepekan ini, kami prediksi Malioboro masih akan ramai. Makanya, kami harapkan masyarakat dan pengunjung bisa sama-sama untuk menjaga ketertiban,” ajak Wali Kota Haryadi Suyuti, kemarin (12/7).

HS, sapaannya, mengungkapkan, meski belum akan dievaluasi, bukan berarti berbagai masalah dibiarkan. Dia telah menginstruksikan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja untuk cepat dan tanggap menindaklanjuti setiap keluhan.

“Kami memang belum menemukan. Tapi, patroli bersama sekarang diintensifkan,” jelas HS menanggapi pencegahan penarikan tarif parkir Rp 20 ribu untuk mobil.

Dia menegaskan, untuk menjaga imej Jogja tetap berhati nyaman, tak bisa dilakukan hanya dengan pencitraan saja. Tapi, hal tersebut harus dibuktikan dengan sikap dan tindakan masyarakat Kota Jogja. Salah satunya dari juru parkir (jukir) yang berhubungan langsung dengan wisatawan.

“Evaluasi secara menyeluruh dan apa solusi jangka panjang, baru akan kami lakukan setelah tanggal 18 Juli,” tandasnya. (eri/ila/ong)