HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
NGURI-URI : Salah satu pementasan sekaligus menghibur masyarakat yang dilakukan Sanggar Langit Alang-Alang.

Beri Kritik, Ungkap Egoisme Manusia terhadap Alam

Banyak cara untuk mengungkapkan kecintaan dan kepedulian terhadap alam. Sanggar Langit Alang-Alang memandangnya lewat pementasan drama tari berjudul Kabut Lan Embun.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo
DEWASA INI bencana alam serasa begitu dekat dengan manusia. Baik bencana longsor, banjir, gelombang pasang dan bencana lainnya. Sementara tanpa sadar, semua itu juga akibat ulah manusia yang tidak adil terhadap alam.

Kabut lan Embun (Kabut dan Embun) akhirnya diangkat sebagai lecutan pengingat. Tujuannya agar masyarakat segera sadar dengan realita yang ada. Sebab manusia harus hidup berdampingan dengan alam.

Cukup apik dan menarik, pentas drama tari itu dimulai dari kemunculan tokoh pria dengan kostum hitam dan membawa berbagai dahan hijau untuk kemudian berdiri diam. Dia melambangkan pohon.

Tiba-tiba sekumpulan pria dan wanita datang membawa kapak. Mereka menari liar mengelilingi pria berkostum hitam dengan gerakan yang terkesan brutal diselingi teriakan para pembawa kapak. Semua (manusia) terlihat egois, selain pohon yang diam begitu jelas tersirat.

Benar saja, kapak-kapak itu dalam hitungan detik menyerbu sang pohon. Sembari menari para pembawa kapak terus berkeliling bersuka cita akan hasil perolahan mereka untuk kemudian menggotongnya beramai-ramai.

Sang pohon tetap diam. Tak mampu melakukan apa-apa. Hingga akhirnya roboh dikangkangi ketamakan manusia. Ranting kayu dipangkas menjadi kayu bakar, bagian tengah dibelah menjadi lantai rumah, sisanya dimanfaatkan tanpa sisa sesuai keserahan yang diinginkan.

Tak lama, empat penari wanita dengan properti api-api muncul menari saling mengelilingi diri. Adegan itu sangat jelas untuk menunjukkan peristiwa kebakaran dibekas sang pohon berdiri sebelumnya. Para wanita penari api ini kemudian menghilang suasana pun senyap seketika.

Datanglah empat pria membawa kain panjang berwarna biru, tangannya menggerakkan kain naik turun tak beraturan, sang sytradara jelas sekali ingin mengilustrasikan banjir. Benar saja, empat wanita menyeruak dan dengan teriak histeris, secara acak mengangkut barang-barang dan perabot.

Sejumlah perempuan kemudian memerankan adegan menangis, menggerutu, dan mengeluhkan atas semua yang telah terjadi. Manusia serakah, buta dan berakhir ratapan ketika menoleh kebelakang dan semua sudah tidak bisa diapa-apakan.

Suasana senyap kala dua pria kemudian saling berhadapan untuk berdialog, berkeluh-kesah. Salah satu pria, yang dipanggil dengan istilah “Pak Lurah”, mendapatkan laporan bahwa gunungnya sudah gundul, terbakar dan diterjang banjir.

“Bagian akhir kami isi dengan tari, tarian perlambang kesuburan, tentu setelah manusia sadar semua habis dan berkeinginan melakukan perbaikan dengan menanam pohon-pohon dan bersikap lebih arif dengan alam,” ujar Koreografer sekaligus penari Dewi Puspita Sari, usai pementasan.

Dewi menjelaskan, tarian ini sengaja diciptakan sebagai bentuk kritik akan kondisi kerusakan lingkungan yang nyata terjadi saat ini. Tarian ini dimainkan 35 penari anggota Sanggar Langit Alang-Alang.

“Manusia seringkali lupa sudah berbuat tidak adil dengan alam, sementara alam selalu melakukan keselarasan. Adalah hukum kausalitas, ketika alam dirusak maka manusia juga akan hancur dengan ketidak adilannya,” jelasnya. (din/ong)