SLEMAN- Kebiasaan sebagian masyarakat Jogjakarta ini cukup membahayakan dunia penerbangan. Ya, dalam merayakan Lebaran tak sedikit warga menerbangkan balon udara sederhana berbahan asap. Tak jarang, saat ditebangkan pangkal balon disertai rententan mercon. Biasanya balon diterbangkan malam hari.

Kemarin (13/7), Satuan Polisi Militer Angkatan Udara (Satpom AU) Lanud Adisutjipto mendapati salah satu balon bergaris tengah tiga meter degan panjang 5,5 meter.

Komandan Satpom AU Letkol Yudi Pratikno menegaskan bahwa balon udara sangat mengganggu arus penerbangan pesawat udara. “Banyak pilot mengeluhkan (balon udara). Dikhwatirkan bisa masuk bagian mesin. Jika itu terjadi pesawat bisa meledak,” ujarnya kemarin.

Balon udara juga bisa menyebabkan tertutupnya sensor pesawat jika menempel di bagian bawah bodi. Kondisi itu juga berbahaya. Sebab, pangkalan tak bisa mendeteksi ketinggian pesawat yang tertempeli balon.

Yudi mengimbau masyarakat tak lagi menerbangkan balon berbahan plastik itu. Apalagi balon berukuran besar. “Kami akan lakukan pengawasan dan sosialisasi kepada masyarakat,” lanjut perwira TNI dengan melati dua di pundak. Dia mengingatkan bahwa semua hal yang membahayakan penerbangan bisa dikenai sanksi perdata maupun pidana. Ketentuan itu diatur dalam Undang-Undang Penerbangan Nomor 1 Tahun 2009 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 9 Tahun 2009.

Terkait balon udara yang diamankan anggota Satpom AU, lanjut Yudi, berasal dari arat timur di ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Balon jatuh di wilayah Banguntapan, Bantul. (sky/yog/ong)