DWI AGUS/RADAR JOGJA
WIRAUSAHA: Putri Aditya Listyaningrum dan kreasi Compyang buatannya. Compyang merupakan modifikasi dari makanan tradisional ampyang yang sudah populer lebih dulu.

Ganti Bahan Baku, Bermimpi Bisa Jadi Oleh-Oleh Khas Bantul

Momen lebaran lalu ternyata menjadi berkah tersendiri bagi Putri Aditya Listyaningrum. Bermodal hobi memasak, dia meramu ampyang gaya baru. Ampyang produksinya ini menggunakan bahan baku cokelat dan kacang mete.

DWI AGUS, Jogja
MENDENGAR kata ampyang pasti terbayang makanan tradisional yang terbuat dari gula Jawa, jahe, dan kacang tanah. Makanan yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang ini digemari siapa saja. Rasanya yang manis berpadu dengan gurihnya kacang tanah dan hangatnya jahe.

Namun, di tangan Putri, sapaannya, ampyang berubah rasa dan kemasan. Tak ada lagi aroma gula Jawa dan jahe. Melalui tangan kreatifnya, ampyang dimodifikasi.

Tidak lagi menggunakan gula Jawa dan kacang tanah. Tapi, gula merah diganti dengan cokelat dan kacang tanah diganti dengan mete. Rasanya? Hmmm, lezat.

“Semua orang suka cokelat, inilah mengapa dipilih sebagai bahan baku. Dikombinasikan dengan kacang mete. Makanya diberi nama Compyang. Singkatan dari Cokelat Ampyang Mete,” jelasnya, kemarin (13/7).

Untuk mematangkan usaha yang baru dirintis setahun ini, dia mengusung brand Cello. Nama ini sendiri merupakan panggilan kesayannganya waktu masih kecil. Keunikan dari cokelat ampyang ini tak hanya dari segi rasa, tapi juga bahan baku.

Perempuan kelahiran Bantul, 29 Januari 1993 ini menggunakan bahan baku lokal. Seperti kacang mete yang didatangkan dari Wonosari, Gunungkidul. Menurut Putri, kualitas kacang mete Wonosari sangatlah bagus.

“Untuk kacang mete tidak kalah dengan daerah lainnya. Ukurannya juga besar dan dari segi rasa gurih. Memang musiman, tapi rata-rata untuk bahan baku didatangkan dari sana,” ungkapnya.

Untuk mewujudkan camilan ini, Putri berkolaborasi dengan budhe-nya. Dia mengaku tidak mudah untuk menghasilkan resep yang pas. Beberapa kali percobaan pernah dijalani, hingga menemukan resep saat ini.

Menurutnya, untuk mengolah cokelat tidaklah mudah. Apalagi sifat dari cokelat jauh berbeda dibandingkan dengan gula Jawa. Perlu perlakukan khusus agar cokelat dapat mengikat kacang mete. Juga mampu mengeluarkan rasa yang khas dan terasa enak.

“Pernah dilelehkan tapi ternyata hasilnya tidak maksimal. Hingga akhirnya mencoba dengan cara dioven. Ternyata hasil sesuai yang diinginkan dan rasanya juga pas,” ujarnya.

Awalnya resep ini hanya untuk santapan keluarga dan teman-temannya. Melihat potensi yang besar terutama banyaknya peminat, akhirnya dikemas menjadi bisnis. Bermodal pengalaman kerja dibidang perhotelan, Putri mulai mencari relasi.

Sasaran pertamanya adalah relasi-relasinya terdahulu. Selanjutnya menawarkan menggunakan media sosial sebagai senjata utama. Saat ini pesanan selalu datang setiap bulannya. Bisa dari relasi hingga pesanan via online.

“Juga sempat ikut beberapa kali pameran Usaha Kecil Menengah. Ke depannya saya punya misi menjadikan Compyang sebagai oleh-oleh khas Bantul,” kata perempuan yang pernah menjadi Putri Bantul ini. (ila/ong)