SLEMAN- Pemkab Sleman terus berupaya mengangkat eksistensi kesenian tradisional warisan budaya nenek moyang.

Kali ini, apresiasi terhadap pelaku dan pecinta seni diwujudkan dalam festival jathilan yang digelar Kamis-Jumat,14-15 Juli di Area Parkir Utara Lapangan Denggung, Tridadi.

Sebanyak 17 grup andalan tiap kecamatan se-Sleman akan unjuk gigi.Jathilan sengaja dipilih lantaran dianggap sebagai kesenian tradisional paling legendaris. Jathilan, atau kuda lumping merupakan bentuk tarian yang menggambarkan peperangan antar dua prajurit kerajaan. “Ini kesenian rakyat yang mengandung unsur kearifan budaya lokal. Sudah selayaknya dilestarikan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman A.A. Ayu Laksmidewi kemarin (13/7).

Bagi Ayu, nguri-nguri budayalokal termasuk bagian upaya mendukung konsep keistimewaan Jogjakarta. Sekaligus memberiruang gerak bagiseniman untuk berekspresi. Terlebih, saat ini grup jathilan mulai marak bermunculan hingga pelosok wilayah pedesaan.

“Jathilan paling kompetitif,” lanjut perempuan kelahiran Bali itu.

Lebih dari itu, festival jathilan digelar sebagai wahana hiburan murahmeriah bagi masyarakat dan wisatawan yangsedang berlibur di Sleman.

Pada sesi pertama, Kamis (14/7) siap tampil sembilangrup. Diantaranya, Kudho Nalendra dari Kecamatan Moyudan, Sekar Jati (Ngalik), Kudho Muda Satriya (Ngemplak), Kudho Prasetya (Gamping), Suwito Raharjo (Sleman), Turonggo Cahyo Mudo (Seyegan), Mustiko Prasetyo (Depok), Turangga Manis (Pakem), dan Turonggo Mudho Satya (Prambanan).

Dilanjutkan delapan grup pada keesokan harinya,Jumat (15/7), antara lain: Turonggo Mudo Budoya (Godean), Kudho Wiromo (Berbah), Ria Panji Kawedar (Tempel), Bekso Satriyo Mudo (Mlati), Puspito Bawono (Minggir), Kudho Manunggal (Turi), Kudho Bramuda (Kalasan), dan Turonggo Wahyu Budoyo (Cangkringan).

Turut tampil sebagai bintang tamu grup Angguk Si Lestari Pripih dari Kulon Progo.

Sementara itu, Desa Wisata Grogol, Margodadi, Seyegan juga menggelar festival kesenian. Bedanya, ajang pentas budaya di Grogol lebih bernuansa religious. Festival digelar pada Jumat-Sabtu (15-16 Juli). Peserta merupakan perwakilan dari 17 kecamatan. Ditunjuk sebagai juri, diantaranya, Dr Kuswarsantya dari UNY dan Dra Daruni MHum dan Sancaka SPd dari ISI Jogjakarta.(yog/ong)