JOGJA- Di tengah geliat masyarakat ekonomi ASEAN (MEE), Pemkot Jogja mulai membidik wisatawan asal Negeri Tirai Bambu, Tiongkok. Dengan begitu, Kota Jogja tak hanya dijadikan ladang pasar barang-barang asal negara berpenduduk paling padat di dunia itu. Tapi bisa memperoleh devisa dengan kehadiran turis-turis berkulit kuning.

Untuk menjaring sebanyak mungkin wisatawan, Pemkot menjalin kerjasama bidang pariwisata dengan Kota Yangzhou.

Bahkan, Vice Secretary General Of Yangzhou Minicipal Government Zhu Yong berjanji memasarkan aneka kekayaan dan budaya Kota Jogja bagi warganya.

“Kami akan menawarkan ke masyarakat. Minimal mereka bisa belajar untuk membandingkan penghargaan terhadap warisan budaya di Indonesia,” ujar Zhu Yong disela penanandatangan dokumen kerjasama kemarin (13/7).

Zhu Yong mengatakan, Kota Jogja dan Yangzhou memiliki banyak kesamaan. Salah satunya sebagai heritage city. Yangzhou memiliki warisan budaya yang telah diakui UNESCO. Sejumlah lokasi wisata yang menjadi andalan kota di bagian timur Tiongkok tersebut adalah bangunan cagar budaya.Salah satunya, sebuah blok heritage yang luasnya mencapai lima kilometer persegi yang diperkirakan telah berumur lebih dari 2.500 tahun.

“Ada lagi Grand Canal yang masuk sebagai situs cagar budaya dunia,” tambahnya. Menurut Zhu Yong, heritage city di tempat asalnya mampu mendatangkan ekonomi tinggi. Yong menyebut, pendapatan Kota Yangzhou dari sektor pariwisata mencapai 10 miliar dolar AS.

Dalam kesempatan itu, Zhu Yong mengungkapkan bahwa masyarakatnya sangat gemar berwisata. Namun, tujuan utamanya seringkali ke Thailand atau Singapura.

Kendati demikian, diakuinya, Kota Jogja memiliki peninggalan heritage warisan dunia yang mampu mengundang minat wisatawan asal Tiongkok.

Selain bidang pariwisata, Zhu Yong membuka peluang kerja sama pertanian. Apalagi, di Yangzhou terdapat sebuah pabrik yang memproduksi mesin-mesin pertanian.

“Bahkan pabrik tersebut memproduksi helikopter yang bisa digunakan untuk mendukung pertanian,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga membuka kesempatan untuk kerja sama di bidang pendidikan, ekonomi, dan perawatan cagar budaya. “Masih banyak peluang yang bisa dikerjasamakan,” tandasnya.

Wali Kota Haryadi Suyuti menaruh harapan besar atas kerja sama dua belah pihak. Dia tak ingin kerja sama tersebut sebatas legalisasi di atas kertas. Tapi bisa bermanfaat secara nyata bagi warga Kota Jogja.

Haryadi optimistis kerja sama tersebut bakal berkembang dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Itu setelah pembangunan bandara di Kulonprogo selesai. “Sangat dimungkinkan ada direct flight dari Yangzou ke Jogja,” katanya. (eri/yog/ong)