Guntur Aga T / Radar Jogja Online
Seorang abdi dalem cilik, Rizki Kuncoro Manik bersalaman dengan Gubernur DIJ Sri Sultan HB X dalam acara Sawalan Abdi Dalem DIJ, di Bangsal Kepatihan, Jogjakarta, Kamis (14/7).
 

JOGJA – Selain para abdi dalem Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman, syawalan abdi dalem di Bangsal Kepatihan kemarin (14/7) juga diikuti anak-anak. Mereka adalah cucu para abdi dalem yang diajak untuk syawalan, berjabat tangan dengan Raja Keraton dan Adipati Pakualaman.

Pengalaman pertama bertemu dan berjabat langsung dengan Sri Sultan Hamengku Bawono (HB) Ka 10 dan KGPAA Paku Alam (PA) X, membuat Difa Angel Kalsita harus bangun pagi. Sejak pukul 04.00 Difa harus bersiap dandan memakai sanggul ke salon. “Dandan pukul 04.00 pagi, berangkat pukul 06.00,” ujar warga Purbasari Wonosari itu.

Siswi kelas 3 SD Mujahidin Wonosari itu mengaku diajak oleh kakeknya KRT Martosugiharjo, ikut syawalan abdi dalem. “Deg-degan waktu salaman,” ujarnya. Hal itu karena siswi kelahiran 9 Mei 2008 itu baru pertama kali bertemu HB Ka 10. “Tadi ditanya Pak Sultan kelas pinten?” lanjutnya.

KRT Martosugiharjo mengaku baru pertama kali mengajak cucunya ikut syawalan di Bangsal Kepatihan. Hal itu sekaligus untuk mengenalkan cucunya dengan budaya Jogja. Terlebih, keluarga mereka merupakan turun temurun abdi dalem Keraton Jogja. “Difa ini juga sudah diajarkan tari, kalau tidak anak cucu kita siapa lagi yang meneruskan budaya Jogja,” ujar abdi dalem Kanayakan Keraton Jogja itu.

Hal yang sama juga dilakukan KRT

Suyatiman Cermo Witoro yang mengajak cucunya Riski Manik Kumolo. Berbeda dengan Difa, Riski sudah beberapa kali diajak syawalan abdi dalem. Bahkan saat ngabekten di Keraton Jogja. Bocah kelahiran 27 Oktober 2008 ini, jelas dia, sudah mengerti suba sito dan tata krama Keraton Jogja. Seperti laku dodok atau sembah sungkem ke Raja. “Sama Ngarso Dalem, Rizki selalu dialem,” ujar abdi dalem yang bertugas membuat wayang tersebut.

Selain Difa dan Riski, kemarin juga ikut syawalan sekitar 700 abdi dalem dari kabupaten dan kota di DIJ. Pengurus Abdi Dalem Kaprajan KPH Indro Kusumo mengatakan abdi dalem Kaprajan adalah pegawai pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang masih bekerja. Sedangkan Abdi Dalem Punakawan adalah masyarakat umum yang sehari-hari bertugas di keraton. “Syawalan ini adalah kesatuan antara pimpinan dan yang dipimpin dan
merupakan peristiwa kebudayaan,” tuturnya.

Raja Keraton Jogja Hamengku Bawono Ka 10 dalam sambutannya, yang menggunakan bahasa Jawa Bagongan, meminta abdi dalem yang masih bekerja, terutama di pemerintahan, bisa memanfaatkan dana keistimewaan untuk program kesejahteraan masyarakat. Dengan mengutamakan skala prioritas yang besar daya ungkitnya. “Pamong Praja dalam bekerja nguri-nguri budaya harus lebih dari warga lainnya,” pesan HB Ka 10. (pra/ong)