BANTUL – Hari Raya Idul Adha memang masih dua bulan lagi. Namun, antisipasi peredaran sapi kurban harus dilakukan sejak sekarang. Paguyuban Peternak Sapi Segoroyoso khawatir, tanpa pengawasan pemerintah nantinya marak beredar sapi belum cukup umur untuk kurban.

Ketua Segoroyoso Ilham Akhmadi menengarai, peredaran sapi tak layak kurban berpotensi terjadi lantaran populasi hewan ternak tersebut terus menurun. Khususnya di wilayah Bantul. “Ini tugas pemerintah untuk pengawasan ekstra. Antisipasi harus jauh-jauh hari,” pintanya kemarin (13/7).

Menurut Ilham, jumlah populasi sapi di Bumi Projotamansari tak lebih dari 25 ribu ekor. Penurunan jumlah berangsur tiap tahun sejak awal 2000. Populasi sapi kurban pun menipis. Kondisi itu berbanding terbalik dengan permintaan pasar setiap menjelang hari raya kurban. “Pasti melonjak,” lanjut Ilham, yang juga ketua Asosiasi Pengusaha Daging Sapi Segoroyoso.

Jika tak diawasi, Ilham khawatir banyak konsumen dibohongi penjual sapi. Dengan begitu, perayaan kurban menjadi tidak afdol karena hewan ternak belum cukup umur. Hal itu merugikan masyarakat. Ilham memprediksi, peredaran sapi bakalan mencapai 80 persen dari total populasi di pasaran.

Agar masyarakat tak terjebak, Ilham membeberkan ciri-ciri hewan kurban layak kurban. Salah satunya umur sapi. Usia sapi bakalan rata-rata kurang dari dua tahun. Dengan usia itu bobot hewan diperkirakan baru sekitar 250-350 kilogram. Di pasaran biasanya dilepas penjual dengan harga antara Rp 15 juta – Rp 17 juta per ekor. “Memang murah. Tapi itu belum layak (kurban). Jangan tergiur dengan harga murah,” ingatnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul Pulung Haryadi mengamini jika populasi sapi kurban minim. Dinas mencatat, jumlah populasi sapi ternak per 2015 hanya 52 ribu ekor. Terdiri atas sapi indukan dan bakalan.

“Nanti kami sebar pengawas hewan kurban untuk mengantisipasi peredaran sapi bakalan,” katanya.

Pengawas akan disebar di pasar hewan maupun ke kelompok-kelompok ternak. Petugas sekaligus melakukan supervise dan penyuluhan kepada peternak. Agar tak menjual sapi bakalan untuk kurban.

Di bagian lain, untuk mendongkrak populasi sapi, kata Pulung, pemkab menggiatkan program inseminasi buatan (IB) melalui metode kawin suntik. (zam/yog/ong)