JOGJA – Masa orientasi siswa (MOS) kini akan sangat berbeda. Tak ada lagi atribut obar-abir (warna-warni), tak ada aksesori dan tugas aneh-aneh yang harus dibawa. Semuanya akan berjalan normal-normal saja.

Namun, pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) ini bukannya tanpa tantangan. Sebab, sekolah harus bisa kreatif dan inovatif dalam memberikan materi PLS. Agar siswa baru memiliki pengalaman berbeda, istimewa, dan terkenang.

Misalnya saja dengan mengajak siswa berjalan-jalan menuju tempat bersejarah di sekitar sekolah. Tujuannya, agar siswa bisa mengenal lingkungan sekitar sekolah sekaligus belajar sejarah. Bisa juga dengan membantu warga di sekitar sekolah. Atau yang lebih menantang dan memacu adrenalin dengan mengadakan pertandingan olahraga antarsiswa.

Memantau kegiatan siswa baru saat MOS, kepala sekolah (kepsek) se-Kota Jogja dipanggil ke Balai Kota hari ini (15/7). Para kepsek akan di-briefing terkait pelaksanaan PLS. Terlebih, pada Sabtu (16/7) siswa baru di Kota Jogja sudah masuk sekolah. Mereka akan mengikuti kegiatan prasekolah.

“Pengawas dan komite juga kami panggil. Ini agar saat pelaksanaan sekolah pertama tidak ada kendala,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Edy Heri Suasana, kemarin (14/7).

Edy menjelaskan, briefing tersebut untuk mengetahui kesiapan sekolah menjalani PLS. Sehingga, tidak ada alasan soal sosialisasi. “Kami undang seluruh kepala sekolah negeri. Yang swasta sudah kami terbitkan edaran ke yayasan. Diharapkan sudah tidak lagi ditemukan sekolah yang melakukan pelonco,” harapnya.

Edy menjelaskan, sesuai dengan Permendikbud No 18/2016 PLS mulai tahun ini berubah. PLS harus dilakukan guru. Tak bisa melibatkan siswa senior. “Antisipasi adanya rasa senioritas yang bisa mengarah pada perpeloncoan,” ungkapnya.

Wali Kota Haryadi Suyuti menegaskan, dengan adanya briefing tersebut, pihaknya tak akan mentoleransi kepala sekolah yang ketahuan masih melakukan pelonco. “Kami akan panggil. Tidak boleh ada alasan tidak tahu,” katanya.

Untuk mencegah terjadinya tindak perpeloncoan saat MOS, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ juga sudah mengeluarkan surat edaran (SE). Di antaranya ada pertemuan orangtua, wali sekolah, siswa, dan sekolah.

“Yang dibicarakan dalam pertemuan itu seperti program apa saja di sekolah yang harus di-support orang tua, siswa harus melakukan apa, dan apa harapan dari ketiga pihak,” jelas Kepala Disdikpora Kadarmanta Baskara Aji, kemarin (14/7).

Menurutnya, semua pihak harus jelas tugas dan kewajibannya. Termasuk peran orangtua untuk ikut memantau pelaksanaan MOS. Termasuk terus memantau kegiatan dan tumbuh kembang anak selama sekolah. Untuk itu, komunikasi antara sekolah dan orang tua tidak boleh putus.

Diharapkan sekolah dan orangtua memiliki ikatan komunikasi seperti melalui grup di jejaring sosial. “Tujuannya agar ada sinergi dan saling mendukung antara orangtua, siswa, dan sekolah,” tuturnya.

Dalam SE, lanjut dia, juga terdapat larangan adanya siswa menjadi panitia kegiatan MOS. Sanksi tegas akan diberikan kepada guru atau sekolah yang ketahuan melakukan tindakan kekerasan. Hukuman akan diberikan berjenjang bergantung pada tindakan. Untuk pengawasan, pihaknya membentuk tim pengawas dan posko pengaduan. “Kalau mau mengadu langsung juga bisa lewat HP saya,” ujarnya. (eri/pra/ong)