GUNAWAN/radar jogja
PENGHIJAUAN – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (LHK) Siti Nurbaya menanam bibit tanaman keras secara simbolis disela kunjungan ke lokasi persemaian permanen milik BBWSO Jogjakarta di Tahura Gading, Playen, Gunungkidul kemarin (14/7)
GUNUNGKIDUL – Proyek reboisasi yang digalang pemerintah pusat bakal sulit terealisasi tanpa dukungan masyarakat. Sebab, pemerintah hanya memiliki 51 unit balai pembenihan tanaman keras yang tersebar se-Indonesia. Keterbatasan jumlah balai menyulitkan pemenuhan kebutuhan tanaman keras untuk penghijauan.

“Padahal permintaan bibit cukup tinggi. Terutama di wilayah Jawa yang banyak terhampar hutan rakyat,” ungkap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Siti Nurbaya disela kunjungan ke Balai Pengelolaan Derah Aliran Sungai Serayu dan Opak (BBWSO) Jogjakarta di Tahura Gading, Playen, Gunungkidul kemarin (14/7).

Diakui, produksi benih saat ini yang hanya mencapai 1,7 juta bibit per tahun belum mampu mendukung gerakan kampanye penghijauan.

“Harus diterapkan teknologi baru untuk meningkatkan volume produksi dan percepatan distribusi,” lanjutnya.

Menurut Nurbaya, tingginya produksi hutan rakyat di Pulau Jawa berdampak pada perkembangan industri kayu yang kian pesat. Khususnya di luar Jawa. Kondisi itu harus dibarengi dengan pengembangan hutan rakyat dan rekayasa industri kayu.

Kepala Balai Pengelolaan dan Perhutanan Sosial, BBWSO Jogjakarta Widiasworo Sigit menuturkan bahwa permintaan bibit tanaman keras saat ini mencapai lebih dari satu juta batang. “Itu artinya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan meningkat. Program penghijauan pemerintah cukup berhasil,” klaimnya.(gun/yog/ong)