MUNGKID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang terus mewaspadai berbagai potensi bencana alam. Saat musim kemarau, potensi bencana alam adalah kekeringan air bersih. Ini jadi perhatian Pemkab Magelang. Terutama di wilayah perbukitan yang menjadi langganan bencana kekeringan.

BPBD mencatat tiga kecamatan yang rawan bencana kekeringan. Ketiganya tersebar di Perbukitan Menoreh. Musim kemarau tahun ini diperkirakan mulai Agustus hingga Desember mendatang.

“Ada tiga kecamatan yang menjadi perhatian dan rawan bencana kekeringan tahun ini. Semuanya di Perbukitan Menoreh. Seperti Kecamatan Salaman dan Borobudur,” ungkap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang Supranowo Kamis (14/7).

Tiga kecamatan tersebut meliputi puluhan desa. Untuk mengantisipasi, BPBD mengalokasikan sejumlah anggaran untuk dropping air bersih.

“Selain alokasi dana dari APBD, untuk antisipasi kekeringan biasanya juga dari CSR perusahaan di sekitar Magelang,” imbuh Supranowo.

Meski ada alokasi dana dropping air bersih, Supranowo mengimbau wilayah yang kekeringan menempuh jalur lain mengatasi kekeringan. Seperti membangun sumur bor di sekitar desa yang kekeringan. Upaya tersebut agar wilayah yang tertimpa kekeringan tidak bergantung pada bantuan dropping air bersih saja.

“Pemerintah desa bisa menganggarkan sendiri pembuatan sumur bor. Sekarang kan ada dana desa. Itu bisa dimanfaatkan,” usulnya.

Jelang musim kemarau, BPBD Kabupaten Magelang menyelenggarakan rapat koordinasi pengurangan resiko bencana antisipasi musim kemarau/kekeringan 2016. Rapat dihadiri Muspika, DPU & ESDM, PMI, Pemdes, dan perwakilan Stasiun Klimatologi BMKG Semarang dan BPBD Provinsi Jawa Tengah.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Sujadi menegaskan, salah satu tujuan rapat koordinasi adalah menjadikan acuan mengumpulkan data, meramalkan kekeringan, dan memperkirakan dampak kekeringan. Sehingga bisa memberikan informasi teknis dalam rangka penanggulangan bencana kekeringan.(ady/hes)