HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
INSPIRATIF: Joko Japrak dan biola buatannya. Khusus untuk pembuatan biola, dia belajar secara otodidak berbekal keahliannya sebagai tukang kayu.

Jadi Tukang Kayu di Inggris, Sempat Kolaps, Kini Bangkit Kembali

Tinggal di daerah pegunungan tidak membuat Joko Japrak, 44, warga Jetis, Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo kehilangan semangat untuk berkarya. Meski usahanya sempat kolaps, dia tak menyerah. Berbekal kemampuan dalam dunia pertukangan, dia mencoba membuat sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi yakni biola. Karyanya kini berhasil tembus pasar internasional.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo
BIOLA produksi Joko Japrak kini banyak diburu pemain musik dan kolektor dari Indonesia. Tak hanya itu, biola buatannya bahkan dipesan hingga Rusia, Hawai, dan Timur Tengah. Pria kelahiran Temanggung, 15 April 1971 ini menjadi perajin alat musik biola secara otodidak. Dia juga memulai usahanya ini dari nol.

Semula, Joko yang memiliki keahlian teknik sipil perkayuan sempat bekerja di perusahaan mebel di Jepara dan Semarang, Jawa Tengah. Namun, setelah memutuskan menikah dengan Susanti Dwi Ambarwati, dia kemudian tinggal di Samigaluh, Kulonprogo.

Tidak memiliki penghasilan tetap, dia mulai mencoba menekuni usaha handicraft dari kayu. Namun, pasca-bom Bali 2002 usahanya kolaps bahkan vakum hingga 2004. Dia kemudian mencoba membuat biola, bermula dari permintaan teman-temannya memperbaiki biola yang rusak.

Joko dipercaya bisa memperbaiki body biola karena sebelumnya merupakan tukang kayu yang handal. Joko bahkan pernah bekerja sebagai tukang kayu di Manchester, Inggris. Pernah pula menjadi tukang kayu di Jepang dan pernah belajar perkayuan selama satu tahun di Sydney, Australia.

“Biola punya teman jebol dan minta saya memperbaiki. Kemudian banyak yang merekomendasikan, hingga ada biola-biola dari Eropa yang dikirim ke rumah untuk diservis. Dari situ saya tahu dalamnya seperti apa dan termotivasi membuat,” katanya, kemarin (15/7).

Joko mengungkapkan, berkat dorongan teman-temannya, dia berhasil membuat biola sendiri dalam waktu satu minggu. “Awalnya belum sempurna, bentuknya sudah bagus tapi suaranya yang belum,” katanya.

Mendengar masukan teman-teman dan konsumen, Joko kemudian menemukan kesalahan dalam proses pembuatannya. Dari situ, dia lantas melakukan penyempurnaan. Akhirnya, biola produksinya bisa dipakai untuk orkes-orkes standar internasional.

“Paling sulit mencari nada dan suara. Untuk standar internasional sulit sekali, karena kayu di Indonesia kayu tropis. Kayu yang saya pakai sungkai, walangan, dan mangga,” ungkapnya.

Harga jual biola produksi Joko Japrak berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta. Selain biola, Joko juga bisa membuat gitar serta berbagai alat musik gesek lainnya seperti kontra dan cello. Bahkan juga bisa membuat alat musik gesek tradisional dari berbagai daerah maupun dari luar negeri seperti rebab Jawa, rebab Cina, rebab Jepang, dan rebab Vietnam. (ila/ong)