GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, berfoto dengan Vita Oktaviana dan Fatima Yunita, dua calon penumpang tujuan Jakarta, di sela melakukan inspeksi di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta, Jumat (15/7).
JOGJA – Pengecekan kendaraan dan uji kesehatan yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja membuahkan hasil. Pengecekan yang dilakukan dengan sampling tersebut berhasil menekan angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Berdasarkan catatan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) penurunan laka yang melibatkan bus mencapai 54 persen.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Pudji Hartono disela pengecekan arus balik di Terminal Giwangan menjelaskan, kelayakan kendaran sangat berpengaruh terhadap laka lantas. Buktinya, laka yang melibatkan bus selama angkutan Lebaran yang berlangsung sejak 29 Juni sampai 16 Juli lalu menurun drastis. “Tahun ini, dari laporan yang masuk untuk DIJ tidak ada laka yang melibatkan bus,” ujar Pudji.

Hal tersebut, lanjut Pudji, sangat menggembirakan. Karena, upaya penekanan kelayakan bus dan pengemudi benar-benar diperhatikan di angkutan Lebaran 2016 ini. “Ketahuan ngantuk, langsung laporkan. Bus harus aman dan nyaman. Karena membawa nyawa lebih banyak,” katanya.

Upaya yang bisa dilakukan untuk menekan laka, kata Pudji, dengan meningkatkan keselamatan perjalanan bus. Pengecekan kelayakan kendaraan secara berkala khususnya terhadap bus yang dinilai kurang memenuhi syarat kelaikan jalan harus terus dilakukan dari pihak perusahaan.

“Kalau kami dengan uji sampling terhadap bus yang kira-kira tidak layak jalan. Jika memang bus tersebut tidak laik jalan, maka petugas harus tegas melarang bus beroperasi hingga ada perbaikan,” katanya.

Di tempat terpisah, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melakukan inspeksi di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta, Jumat (15/7) kemarin. Inspeksi tersebut bertujuan memantau moda transportasi kereta api dalam rangka pelayanan arus balik Lebaran. Terlebih, diperkirakan arus balik akan kembali memuncak pada Minggu (17/7) besok.

Sementara itu, kuota mudik gratis untuk sepeda motor bakal menjadi program unggulan tahun depan. Sebab, selain mampu mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, juga antusias masyarakat cukup tinggi.

“Tahun ini, kami berikan kuota 35 ribu. Ludes, kuotanya sebelum penutupan. Tapi, kalau melarang mudik menggunakan sepeda motor tidak bisa,” ujar Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

Jonan mengungkapkan, larangan menggunakan sepeda motor untuk pulang ke kampung sepenuhnya tak bisa. Pihaknya kini baru mengkaji kemungkinan larangan dalam batasan waktu. “Misalnya dari jam 10.00 malam sampai 04.00 pagi tidak boleh menggunakan sepeda motor,” jelasnya.

Larangan itu masih butuh banyak pertimbangan. Terutama menyangkut teknis di lapangan. Sejauh mana implementasi, butuh perhitungan dengan detail. “Mereka itu menggunakan sepeda motor karena di daerah asalnya sulit transportasi. Jadi, sangat sulit untuk dilarang,” katanya.

Yang pasti bisa dilakukan, lanjut dia, hanya dengan memfasilitasi mudik sepeda motor. Pihaknya menargetkan tahun depan, mudik gratis khusus mengangkut sepeda motor ini bisa mewadahi 90 persen pemudik yang biasa menggunakan angkutan roda dua tersebut. “Sehingga, target mengurangi kecelakaan lalu lintas bisa terkurangi,” jelasnya.

Berdasarkan catatan Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda DIJ, selama angkutan Lebaran ini mencapai 85 laka. Dari jumlah tersebut 80 laka melibatkan sepeda motor. Jumlah ini kian membuktikan peluang laka menggunakan sepeda motor lebih tinggi.

“Tahun depan akan kami bahas dulu dengan DPR. Kami tidak mungkin bisa memfalitasi semua pemudik sepeda motor. Karena jumlahnya setiap tahun juga bertambah,” tandasnya. (eri/aga/ila/ong)