BUDI AGUNG/RADAR JOGJA
TAWARKAN KEASRIAN: Pintu utama Kompleks Taman Sidandang Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Lokasi wisata ini sangat dekat dengan jalan raya alternatif Purworejo-Jogjakarta.
PURWOREJO- Aliran sungai di Dusun Kedungrante, Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing ini tak pernah kering. Bahkan saat musim kemarau sekalipun. Awalnya warga tidak pernah memikirkan itu untuk dijadikan objek wisata.

Nah, pandangan masyarakat mulai berubah saat anak-anak muda kerap keluar daerah. Mereka melihat objek-objek wisata air yang menjadi jujugan para wisatawan. Mereka pun tergerak untuk mengembangkan potensi wisata air di desanya.

Padahal, dibandingkan wilayah lain, aliran sungai yang membelah Kecamatan Kaligesing di Dusun Kedungrante, Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing Purworejo cukup eksotis. Keberadaan kedung cantik dengan aliran air bertingkat amat memikat. Orang yang melewati kawasan itu pasti akan melirik dan tertarik merasakan segarnya air pegunungan asli.

Kemunculan desa wisata Kaligono (Dewi Kano) yang mengelola objek wisata Curug Siklotok di Dusun Jeketro makin meneguhkan keinginan warga Dusun Kedungrante untuk memiliki objek wisata sendiri dan memberikan kesejahteraan bagi warganya. “Awalnya hanya anak-anak muda saja yang bergerak, tepatnya di awal tahun 2014. Tapi berjalan beberapa hari, banyak orang tua yang membantu membersihkan sekitar sungai,” kata Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata Joko Kendil, Suwanto, kemarin (15/7).

Gayung bersambut, empat warga yang memiliki lahan di pinggir sungai sepanjang 300 meter merelakan tanahnya dimanfaatkan untuk pendukung. Alhasil, dua hektare lahan menjadi wilayah pengelolaan warga.

Tidak sekadar membersihkan area sungai. Ternyata mimpi memiliki objek wisata itu tidak mudah. Warga masih harus membabat kebun yang dikelola untuk dijadikan fasilitas pendukung seperti jalan, gardu istirahat dan sebagainya..

Tidak patah semangat dan setengah hati dalam melangkah, warga juga bekerjasama membuat lapangan terbuka dan jembatan wisata berikut ikon objek wisata yang selanjutnya dinamakan Taman Sidandang. “Kami tidak mau jauh dari nama yang sudah ada di sini. Bentuk dandang juga kita buat untuk semakin mengenalkan keberadaan kami,” katanya.

Tidak sampai setengah tahun, warga berani mendeklarasikan kemunculan Taman Wisata Sidandang sebagai salah satu objek tujuan wisata di Purworejo. Peresmian dilakukan Juni 2014.

Sejak Lebaran 2015 dan 2016 warga bisa merasakan hasilnya. Seiring perjalanan waktu, jumlah kunjungan selalu meningkat dan dalam Lebaran 2016 ini tingkat kunjungan mencapai lebih dari 2.500 pengunjung dengan total pendapatan hampir Rp 10.000.000. “Masih banyak hal yang harus kami kerjakan agar bisa lebih baik lagi. Kami masih memiliki beberapa kegiatan untuk mempercantik Sidandang ini,” imbuh Parno.

Dalam waktu dekat, pengelola akan membuat taman mini di sekitar kompleks dan pendirian pondok baca. Taman Sidandang tidak terlalu jauh dari kota Purworejo. Jaraknya hanya 12 KM dan bisa ditempuh 20 menit. Sementara Jogjakarta berjarak 40 KM atau sekitar satu jam perjalanan. “Dari Jogjakarta tidak perlu lewat Purworejo kota. Pengunjung bisa melalui wilayah Godean,” imbuh Parno.

Berada 2.500 di atas permukaan laut, menjadikan Sidandang terasa sejuk dan menyegarkan. Di kawasan ini, pengunjung bisa bermain air di enam kedung yang ditawarkan. (udi/din/ong)