SLEMAN – Sejumlah sekolah di Kabupaten Sleman menyambut positif larangan pelibatan murid senior selama masa pengenalan lingkungan sekolah (PLS). Program pengganti masa orientasi sekolah (MOS) itu ditangani langsung oleh guru. PLS dinilai lebih mendidik siswa, sekaligus untuk mencegah aksi perpeloncoan. PLS digelar selama tiga hari mulai Senin (18/7).

“MOS model baru ini lebih mengedepankan pembekalan dan pendidikan karakter dan budi pekerti,” ujar Kepala Sekolah SMK YPKK Gamping Rubiyati kemarin (15/7).

Meski di-handle guru bukan berarti murid senior dilarang berinteraksi dengan siswa baru. Interaksi dengan kakak kelas lebih pada pengenalan diri. Sekolah juga menyiapkan aneka permainan ketangkasan bagi siswa baru guna menghilangkan kebosanan. Setidaknya, program tersebut merujuk
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016 tentang Masa PLS.

Konsep PLS di SMAN 1 Kalasan sedikit berbeda. Siswa baru tak hanya akan dikenalkan pada lingkungan sekolah. Mereka juga dikenalkan pada materi kurikulum 2013. Sebab, sebagian siswa baru berasal dari SMP yang masih menerapkan kurikulum 2006.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Sleman Arif Haryono mengingatkan semua penyelenggara PLS agar berusaha mencegah timbulnya insiden kekerasan terhadap siswa baru. “Ada sanksi hukumnya. Untuk mencegah (insiden) orangtua diimbau mengantarkan dan mendampingi siswa selama PLS,” ujarnya.

Arif menegaskan, murid senior boleh terlibat dalam PLS. Namun, harus atas persetujuan guru dan kepala sekolah. Itupun, keterlibatan mereka sebatas membantu guru.

Selain diisi dengan pendidikan karakter dan budi pekerti, Arif mengimbau sekolah menyelipkan materi wawasan kebangsaan, etika berlalulintas, penyuluhan narkoba, serta sistem pembelajaran yang akan diterapkan.(bhn/yog/ong)