GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kecamatan Wonosari mengeluhkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Banyaknya sampah di selokan dan aliran sungai mengakibatkan saluran drainase tersumbat, bau tak sedap, dan memicu banjir saat hujan deras.

“Pemerintah sudah menyediakan tempat sampah di tempat-tempat strategis. Tapi, masih saja ada warga tidak peduli dan membuang sampah semaunya sendiri,” ungkap Camat Wonosari Iswandoyo kemarin (17/7).

Menurut Iswandoyo, sumber sampah lebih banyak berasal dari para pedagang yang berjualan di Pasar Argosari.

Ditegaskan, kebersihan lingkunan bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah. Itu tanggung jawab bersama. Untuk peduli menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan tempat tinggal.

“Memilah sampah juga menjadi hal penting dalam pembuangan sampah. Agar petugas kebersihan dapat langsung mengolah sampah di tempat pembuangan akhir,” imbaunya.

Iswandoyo mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat mengelola sendiri sampah rumah tangga. Misalnya, sampah organik dimanfaatkan untuk membuat kompos. Atau sampah plastik dibuat barang kerajinan. Dan hanya membuang sampah kaca dan logam saja.

“Di Wonosari itu masyarakatnya heterogen sehingga kesadaran buang sampah lebih baik warga di pinggiran,” ungkapnya.

Tentang kondisi drainase di Wonosari, lanjut Iswandoyo, ada beberapa yang tersumbat sampah. Diantaranya, di wilayah Desa Kepek, Karangrejek, dan Wonosari.

“Drainase sebenarnya masih bagus, namun kesadaran masyarakat yang perlu ditingkatkan agar tak tersumbat sampah,” tutur dia.

Kades Wonosari Tumijo mengakui masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kondisi itulah yang menjadi pemicu banjir di sejumlah titik beberapa waktu lalu.(gun/yog/ong)