Budi Agung/radar jogja
AKULTURASI BUDAYA: Keluarga Kedatuan Luwu, Sulawesi Selatan memasuki ruang ijab kabul pernikahan Hastri Indah Larasati yang asli Purworejo dengan Edy Setiawan, keturunan Keluarga Kerajaan/ Kedatuan Luwu akhir pekan lalu.

Ulang Sejarah 200 Tahun Kedatuan Luwu Meminang Puteri Jawa

Ada pemandangan berbeda di Kampung Yudodipuran, Sindurjan, Purworejo akhir pekan lalu (16/7). Banyak lelaki berbaju hitam mengawal seorang pemuda. Ada apa gerangan?
Budi Agung, Purworejo
Pakaian yang dikenakan pemuda itu seragam dengan para pengawalnya. Baju hitam dengan celana berbungkus sarung warna mencolok. Kepala mereka ditutup dengan pecis, yang juga mencolok warnanya. Seragam yang mereka kenakan bukanlah pakaian adat yang ada di Pulau Jawa. Di dada mereka juga tersemat pin yang tak lazim bagi masyarakat Jawa.

Tak hanya dikawal, pemuda itu juga dinaungi dengan payung yang tak biasa. Bukan payung penangkal hujan atau terik matahari. Tapi semacam payung kebesaran adat kerajaan.

Selidik punya selidik, rombongan yang sempat mencuri perhatian masyarakat Purworejo itu ternyata berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Mereka juga bukan orang “biasa”.

Mereka adalah keluarga besar Kedatuan/Kerajaan Luwu, yang sengaja datang ke Purworejo untuk meminang seorang gadis. Dia adalah dr Hastri Indah Larasati, puteri M . Ichsan, warga asli Sindurjan. Calon suaminya bernama Edy Setiawan. Memang bukan nama asing bagi kalangan masyarakat Jawa. Bahkan, nama tersebut cukup banyak bisa ditemui di wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah.

Bedanya, Edy Setiawan ini merupakan anak Andi Muhammad Yusuf Opu Daeng Parani, bagian keluarga Kedatuan Luwu.

Istimewanya, upacara peminangan dihadiri Yang Mulia Topapoatae Sripaduka Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. Maradang Mackulau adalah Datu Luwu ke-40 Kedatuan Luwu.

Seperti halnya adat Jawa dalam meminang temanten, banyak hantaran yang dibawa oleh keluarga kaum lelaki. Namun, ada beberapa yang mencolok yang menjadi pembeda. Diantaranya, beberapa alat musik yang ditabuh saat calon mempelai lelaki datang. Selama menunggu seserahan, si pria juga ditempatkan di bawah payung besar yang secara khusus dibawa dari Sulawesi itu.

Rifky Aswan, adik Edy Setiawan, menuturkan, prosesi lamaran sekaligus ijab kabul memang sedikit berbeda dengan budaya Jawa. Hanya, esensinya tetap sama.

“Beda sedikit saja. Kebiasaan di Keluarga Kedatuan Luwu, saat melamar dan ijab kabul kami mengenakan baju seragam,” ungkap Rifky.

Dalam kesempatan itu, Yang Mulia Topapoatae Sripaduka Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau juga memberikan wejangan untuk kedua mempelai. Beberapa kali disampaikan jika seorang lelaki tidak boleh meletakkan tangan kepada istrinya.

“Memang banyak tafsir dari ungkapan itu, sesuai penafsiran pendengarnya,” kata Rifky.

Secara umum, ungkapan tersebut dimaksudkan bahwa tidak boleh melakukan kekerasan dan menggantungkan kehidupannya kepada sang istri.

Sepintas, pernikahan ini sebenarnya wajar saja. Dimana ada perpaduan dua budaya yang berbeda. Namun, pernikahan Edy dan Hastri menjadi lebih istimewa dan terkesan sakral. Menurut Rifky, pernikahan kedua mempelai merupakan pengulangan sejarah 200 tahun lalu. Saat pertama kalinya Kedatuan Luwu meminang puteri dari Jawa. “Sekarang sejarah itu kembali terulang,” ucapnya.

Kedua mempelai bertemu dan berkenalan saat sama-sama menempuh kuliah di Jogjakarta.

Ke depan, mempelai wanita yang saat ini bekerja di RS Aisyiah Purworejo akan diboyong ke daerah asal suaminya di Palopo. Edy sendiri bekerja di Pemkot Palopo.

Bagi Hastri, masih ada upacara adat lain yang harus dijalaninya setelah berada di Palopo. Upacara itu khusus menyambut anggota baru dalam keluarga Kedatuan Luwu.(yog/ong)