JOGJA- Usai Lebaran menjadi saat paling tepat bagi Pemkot Jogja untuk bebenah. Pengalaman menyambut wisatawan saat libur panjang Lebaran menjadi pintu masuk evaluasi. Khususnya, mengurai kemacetan dan penumpukan massa di kawasan Malioboro.

Jika Pemprov DIJ berencana membangun kawasan Jogja Expo Center (JEC) sebagai pusat keramaian baru, tidak demikian degan Pemkot Jogja.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja Eko Suryo Maharsono justru berencana menambah destinasi wisata baru. Langkah itu sebagai sebagai alternatif memecah konsentrasi wisatawan di Malioboro.

“Tahun ini sudah ada kampung wisata. Nantinya kami kembangkan lagi wisata sejarah di museum dan tempat lain yang berpotensi menjadi alternatif,” katanya kemarin (17/7).

Mengubah pariwisata Kota Jogja menjadi lebih nyaman memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih, saat ini Kota Jogja menjadi destinasi kedua yang banyak dikunjungi setelah Bali. Tingkat kunjungan wisatawan juga selalu meningkat setiap tahunnya.

Di sisi lain, sebagian objek wisata yang ada telah mencapai titik jenuh. Taman Pintar, misalnya. Selama libur Lebaran destinasi wisata edukasi itu dikunjungi 35 ribu wisatawan. Jumlah tersebut terbilang cukup banyak, mengingat daya tampung yang hanya sekitar tujuh ribu pengunjung per hari. “Jika dipaksakan semua wisatawan ke Taman Pintar tentu tidak lagi nyaman,” kata Kepala Kantor Tampin Yunianto Dwisutono.

Yuni mengatakan, peluang pasar untuk menbangun Taman Pintar II bisa menjadi solusi mendongkrak angka kunjungan wisatawan. “Hanya dengan membuka lahan baru. Kalau diperluas sudah tidak mungkin,” katanya.

Sementara itu, bagi Haryadi Suyuti, sisa waktu lima setengah bulan menjabat Wali Kota Jogja tentu bukan masa yang lama untuk membenahi infrastruktur, khususnya sarana pariwisata. Khususnya, terkait penataan area parkir yang kian hari semakin kusut.

“Baru akan kami evaluasi. Banyak masukan dan kritik. Ini sangat penting untuk pembenahan,” ujarnya. Setidaknya, hasil evaluasi itu bisa diterapkan untuk menghadapi musim liburan akhir tahun.

Bapak dua anak itu bertekad mengembalikan keramahtamahan Kota Jogja bagi wisatawan. Banyaknya kritik akan berpengaruh pada penataan Malioboro. HS memang lebih banyak mencurahkan pemikirannya untuk pengelolaan parkir.

Prioritas utamanya, pemindahan parkir sepeda motor dari sisi timur Jalan Malioboro dan penertiban juru parkir liar.

Rekayasa lalu lintas tetap diperlukan. Strategi itu mampu mengurangi antrean panjang kendaraan bermotor di sepanjang Jalan Malioboro dan sekitarnya. Bahkan, di beberapa tempat bisa menjadi solusi mencegah kemacetan. “Seperti di Gembira Loka, kemacetan tidak separah tahun-tahun lalu,” katanya.

Desain pengelolaan pariwisata akan dikonsep sinergis dan komprehensif. Hanya, rencana detailnya masih dalam tahap penyusunan. Ke depan, HS menjamin para wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Kota Jogja tak akan kesulitan mencari lahan parkir.(eri/yog/ong)