BANTUL – Orang tua yang memiliki anak duduk di bangku SD dan SMP patut bernapas lega. Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Bantul mengeluarkan kebijakan sekolah tidak boleh menarik uang untuk pembelian seragam sekolah.

“Masalah seragam sepenuhnya diserahkan kepada orang tua,” tegas Kepala Dikdas Bantul Totok Sudarto kemarin (17/7). Dikdas bakal mengawal kebijakan ini. Pihaknya tidak akan segan menindak sekolah yang ngeyel melakukan pengadaan seragam sekolah sendiri bagi siswa-siswanya.

Menurut Totok, sekolah hanya bertugas mensosialisasikan warna dan model seragam bagi siswanya. Kendati demikian, Dikdas tetap memperbolehkan bila ada wali murid yang memutuskan pembelian seragam sekolah secara kolektif. “Yang penting sekolah nggak ikut cawe-cawe,” pintanya.

Totok menegaskan sekolah tidak boleh mempersulit siswanya. Bahkan sekolah harus memperbolehkan siswa yang tak sanggup membeli seragam sendiri.

Kebijakan ini untuk mengantisipasi adanya wali murid dari keluarga prasejahtera yang keberatan membeli seragam bagi anaknya. “Pokoknya mengenakan celana atau rok dan baju. Itu jika memang benar-benar tidak punya,” tegasnya.

Humas Forum Pemantau Independen (Forpi) Bantul Irwan Suryono mengapresiasi kebijakan Dikdas. Kendati demikian, Irwan tetap mengingatkan agar wali murid koperatif.

Caranya dengan melapor ke Forpi bila ada sekolah yang ikut cawe-cawe dalam pengadaan seragam sekolah. Sebab, tidak jarang ada pihak sekolah yang menggiring wali murid untuk menjahit atau membeli seragam ke koperasi atau toko tertentu.

“Ini yang harus diawasi,” ucapnya. Hingga kemarin Forpi belum menerima satu pun aduan wali murid SD/SMP perihal penarikan uang seragam. (zam/laz/ong)