Radar Jogja Online
SEDIKIT: Salah satu sekolah yang jumlah murid barunya jauh dari kuota yang disediakan.
MUNGKID – Beberapa sekolahan di Kabupaten Magelang mengalami kekurangan siswa. Sekolah yang kekurangan siswa berada di wilayah pelosok. Salah satu penyebab kekurangan siswa, diduga minat meneruskan pendidikan sangat minim.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Magelang Dian Kustiani menyatakan, ada ratusan sekolah dari SD-SMA yang mengalami kekurangan siswa. Sekolah itu tersebar di 21 kecamatan. Pada setiap kecamatan rata-rata ada 10 sekolah yang kekurangan siswa.

“Temuan itu terungkap saat Dewan Pendidikan melakukan kunjungan ke kecamatan Windusari, Tegalrejo, Mertoyudan, dan berbagai sekolah di wilayah pelosok,” ungkap Dian Senin (18/7).

Untuk Kecamatan Windusari, ada dua sekolah yang kekurangan siswa. Yakni SD Kentengsari yang hanya mendapatkan 6 siswa, MI Umbulsari terdapat 7 siswa. Sementara SD Payaman 2 di Kecamatan Secang terdapat 6 siswa. Selain itu SMP Pakis hanya terisi 4 ruang lokal dari 6 yang disediakan.

Dian menjelaskan, kekurangan siswa ini bisa disebabkan beberapa faktor. Seperti jarak sekolah dengan siswa yang jauh, kesadaran pentingnya pendidikan kurang, dan faktor ekonomi. Ia menduga, ada faktor lain. Yakni, upaya sosialisasi dari pemerintah terkait wajib belajar 12 tahun masih minim.

“Termasuk kekurangan siswa dikarenakan keberhasilan program KB dari pemerintah. Siswa yang mendaftar sekolah sedikit,” ungkapnya.

Meski ditemukan sekolah yang kekurangan siswa, ia mengungkapn ada sekolah yang jumlah siswanya melebihi standar. Seperti yang terjadi di SD Surodadi, Kecamatan Tegalrejo yang menerima hingga 36 siswa. Padahal jumlah siswa setiap kelas standarnya sekitar 20 siswa.

“Justru memunculkan tanda tanya. Satu sisi sekolah mengalami kekurangan. Di sisi lain terdapat sekolah yang kelebihan siswa,” katanya.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Magelang Haryono sudah menginstruksikan ke para sekolah untuk memperpanjang waktu pendaftaran siswa. Ini dilakuan jika masih mengalami kekurangan siswa.

“Masa pendaftaran siswa bisa diperpanjang hingga Sabtu lalu (16/7), sebelum masuk sekolah,” katanya.

Menurut Haryono, setiap ruang kelas standarnya diisi 32 siswa. Sementara batas minimal diisi sekitar 20 siswa. Meski ditemukan sekolah yang kekurangan siswa, ia belum ada rencana re-grouping atau penggabungan antarsekolah.

“Belum ada rencana re-grouping, karena persoalannya cukup kompleks. Jika digabung sekolahnya, jarak siswa bisa lebih jauh. Ini malah merepotkan,” katanya.(ady/hes)