Pada perayaan lebaran kemarin berapa porsi opor ayam yang dikonsumsi? Sepiring? Dua piring? Atau justru lebih. Opor ayam memang lezat dan menggugah selera makan. Ditambah lagi dengan sambal goreng kentang dan daging yang menggiurkan. Namun, menu-menu khas Lebaran ini harus diwaspadai. Jika tak bisa mengontrol diri dan diimbangi dengan makanan berserat, bisa-bisa kesehatan tubuh jadi terganggu.
KUNCINYA untuk tetap sehat yakni mengontrol diri saat mengonsumsi makanan berlemak. Karena kalau tidak, tubuh bisa drop justru di saat libur Lebaran usai.

Ahli Gizi & Manager Layanan Gizi, Boga, dan Binatu RS Jogja Inter-national Hospital (JIH) Kartika Nur Fitriani, S.Gz, Dietizien, MPH mengatakan, menu ma-kanan yang tersaji saat Lebaran kemarin tidak jauh dari ketupat, opor, dan sambal goreng kentang.

Menu khas saat ini mengandung kom-posisi karbohidrat, le-mak, dan protein hewani. Padahal, tubuh membutuh-kan gizi lain untuk mencukupi kebutuhan gizi tubuh.

“Biasanya hanya itu saja, tidak ada sajian lain yang mendukung ke-cukupan gizi atau kecukupan tubuh akan zat-zat gizi,” ujarnya.

Padahal, saat mengonsumsi ma-kanan, disarankan komposisi pada piramida makanan terpenuhi. Berada paling bawah dan paling banyak porsinya yakni air, lalu di atasnya yakni sumber karbohidrat yang bisa diperoleh dari beras, kentang, dan jagung.

Sedangkan di atasnya lagi yakni sayuran dan buah. Kemudian setelah itu ada protein, baik protein nabati maupun hewani. Sementara posisi paling atas yang jumlah konsumsinya paling dibatasi yakni sumber-sumber lemak, garam, dan gula.

Namun saat hari raya seperti Le-baran, menu opor dan sambal goreng justru membuat piramida makanan jadi terbalik. Karena sumber lemak justru mendominasi. Komposisi makanan hanya berisi lemak, kar-bohidrat, dan protein. Tapi, tidak ada sumber serat yang bisa meng ikat lemak agar tidak sepenuhnya di serap oleh tubuh atau bahkan terjadi pe-numpukan.

“Kalau misalnya seseo-rang sudah punya pe-nyakit degeneratif atau sudah punya penyakit bawaan sebelumnya, saat sebelum Lebaran sehat-sehat saja. Tapi, justru setelah Lebaran jadi kumat berarti kon-sumsi gizinya yang tidak tepat,” paparnya.

Kambuhnya penyakit degeneratif, diakibatkan seseorang tidak bisa mengontrol diri. Bukan semata karena opor atau makanan berlemak. Karena jika porsinya cukup dan diimbangi dengan serat, tentu tubuh bisa men-toleransi.

Mengonsumsi makanan berlemak yang berlebihan juga tidak hanya berdampak pada seseorang yang memiliki penyakit degeneratif, se-perti kolesterol dan asam urat. Sia-papun bisa mengalami gangguan tubuh, karena terjadinya penum-pukan lemak.

Siang makan opor, malam menyantap opor. Saat ber-kunjung ke runah saudara, menunya pun sama. Pola ini yang membuat lemak menumpuk. “Jika dampak yang terjadi pada tubuh sudah tidak lagi pada ambang toleransi, sebaiknya konsultasi ke dokter,” sarannya. (dya/ila/ong)