DWI AGUS/RADAR JOGJA
BERTEMU TEMAN BARU: Alexander Farel Rasendriya Haryono bersalaman dengan teman-teman baru saat Syawalan sekaligus PLS di SMAN 3 Jogja, kemarin (18/7).

Nglaju dari Klaten ke Jogja, Bangga Sekolah di Padmanaba

Hari pertama Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di Jogjakarta diikuti secara antusias. Salah satunya adalah Alexander Farel Rasendriya Haryono, siswa SMAN 3 Jogja. Anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan tuna netra ini terlihat membaur dengan teman-teman barunya, kemarin (18/7).

DWI AGUS, Jogja
HARI pertama masuk sekolah di SMAN 3 Jogja diisi dengan Syawalan antara siswa dan guru. Tidak terkecuali para siswa baru yang pagi itu perdana menyapa sekolah ini. Terlihat diantara barisan siswa ada sosok siswa yang mengenakan tongkat dan kacamata hitam. Dia adalah Alexander Farel Rasendri-ya Haryono, siswa kelas satu asal Klaten, Jawa Tengah.

Pagi itu Farel, sapaannya, terlihat ber-semangat bertemu teman-teman barunya. Meski harus berjalan menggunakan tongkat, tidak mengecilkan hatinya. Bahkan teman-teman barunya turut menuntun langkahnya ketika melakukan syawalan di halaman SMAN 3 Jogja
“Senang akhirnya bisa masuk sekolah hari pertama. Bisa ketemu teman-teman baru dan nuansa pendidikan yang baru juga,” kata anak kelahiran Jogjakarta, 23 Januari 2001 ini.

Farel memang berbeda dengan teman-teman lainnya. Anak berkebutuhan khusus ini sudah mengalami tuna netra sejak usia 5 tahun. Meski begitu, Farel me-nilai ini bukanlah musibah. Justru sebuah anugerah untuk me-nyemangati dirinya menjalani kehidupan.Farel mengisahkan, dia ke-hilangan penglihatannya karena retinoblasma.

Ini adalah jenis kanker yang menyerang bagian retina mata manusia. Farel terserang kanker sejak usianya masih 16 bulan. Awalnya hanya menyerang mata kiri dan me-rembet hingga mata kanannya.

“Selama itu terus melakukan kemoterapi hingga total tidak bisa melihat saat usia lima tahun. Tapi, tidak bisa melihat bukan berarti mematahkan semangat. Harus tetap mewujudkan cita-cita dan membuat keluarga bangga,” ujarnya.

Anak pasangan Doni Haryono dan Emi Tri Ratnasari ini memang memiliki prestasi yang mentereng. Salah satunya adalah peng-hargaan dari Museum Rekor MURI atas rekor tuna netra cilik yang mampu mengoperasikan 14 program komputer.

Dia juga aktif mengikuti olim-piade tingkat SMP. Prestasi membanggakannya terukir dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional. Berkat usaha yang giat, Farel menjadi juara OSN di mata pelajaran Matematika.

“Memang suka pelajaran Ma-tematika sejak kecil. Selain itu, suka mengoperasikan komputer. Jadi semangat kalau sudah mem-pelajari dua mata pelajaran ini,” kata sulung tiga bersaudara ini.

Nilai rata-rata Farel juga ter-golong tinggi yakni 37,15. Jika digabungkan dengan nilai prestasi OSN maka nilai yang diraihnya adalah 38,35.

Orangtuanya men-dukung langkah Farel untuk melanjutkan pendidikan di Jog-jakarta.Hari pertama PLS, Farel harus berjibaku terlebih dahulu. Dia harus berangkat pagi-pagi karena berangkat dari rumahnya, Klaten. Sebab untuk saat ini, dia belum menetap di Jogjakarta.

“Untuk sementara masih nglaju dari rumah di Klaten. Ini tadi berangkat dari rumah jam 05.30 pagi. Rencana ke depan mau tinggal di rumah eyang di daerah Sorowajan,” jelasnya.

Sementara untuk PLS, Farel mengaku tidak menyiapkan hal khusus. Sebab, tidak ada tugas menyulitkan selama PLS ber-langsung. Sesuai surat edaran dari Kemendikbud RI, setiap sekolah dilarang memberikan tugas menyulitkan bagi siswa.

Untuk persiapan proses belajar mengajar, juga telah disusun. Seperti pendamping selama Farel menjalani proses belajar mengajar di SMAN 3 Jogja. Hampir sama dengan pen-damping di SMP Putera Bangsa Klaten dengan adanya pendam-ping khusus.

“Dulu waktu di SMP pakai laptop yang dilengkapi aplikasi audio. Nantinya di sini (SMAN 3 Jogja) mau diterapkan seperti itu. Untuk saat ini Mama, baru cari untuk pendamping selama bersekolah,” ujar siswa yang bercita-cita jadi pengacara ini.

Kepala SMAN 3 Jogja Dwi Rini Wulandari mengungkapkan, tahun ini memang perdana bagi SMAN 3 Jogja menerima siswa tuna netra. Menurutnya, prestasi Farel dapat menginspirasi siswa lainnya.

Di sisi lain untuk penunjang, sekolah menyusun strategi khusus. Terutama menerapkan aplikasi pendukung dan tenaga pen-damping. “Semua perlakukan sama untuk materi sekolah tidak ada bedanya,” ujarnya. (ila/ong)