SLEMAN – Publik tentu belum lupa betapa hebohnya kasus Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang menghebohkan itu pada 2015. Berawal dari kasus dugaan penculikan dr Rica Tri Handayani, hingga pemulangan ribuan anggota organisasi terlarang itu dari kamp di Mempawah, Kalimantan Barat.

Kini, kasus tersebut telah disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman. Kemarin (20/7) dr Rica dihadirkan ke muka majelis hakim sebagai saksi untuk terdakwa Sigit Wibowo, sosok yang disebut-sebut memiliki posisi tertinggi di Gafatar DIJ-Jawa Tengah. Sigit juga dikenal sebagai “Wakil Bupati” Gafatar.

Dalam sidang yang dipimpin Roro Endang Dwi Handayani SH dengan Hakim Anggota Nyoman Suharta SH dan Dwiana Kusumastanti SH, dr Rica mengakui kiprah terdakwa selama di Mempawah.

“Waktu sampai Mempawah dia (Sigit) memperkenalkan diri sebagai penanggungjawab daerah situ,” kata Rica.

Meskipun berada dalam satu lingkungan, Rica mengaku tak banyak berkomunikasi dengan terdakwa. Keterangan Rica tak banyak berubah, seperti saat dirinya bersaksi untuk terdakwa Eko Purnomo dan Veni Orinanda, yang juga anggota Gafatar.

Rica mengaku mentransfer uang Rp 2 juta kepada Eko untuk keberangkatan ke Kalimantan pada akhir 2015. Termasuk kartu ATM-nya yang masih dibawa Eko dan Veni selama dalam perjalanan ke Kalimantan. Pun dengan berpindahnya Rica dari Mempawah ke Pangkalan Bun. Menghilangnya ibu satu anak itu telah menjadi pemberitaan media nasional.

“Masih bingung, ragu, dan galau waktu iyu. Kenapa saya harus pergi dan pindah-pindah. Katanya mencari ridho Allah tapi saya, kok, terus dicari-cari,” ungkapnya.

Sigit ditangkap polisi pertengahan Februari 2016. Penangkapan bermula dari pesan singkat yang berhasil dibuka polisi dari ponsel Eko dan Veni. Di dalamnya ada komunikasi terkait kepergian dr Rica.

Saat itu Wadir Reskrimum Polda DIJ AKBP Djuhandani mengatakan, Sigit ada kaitannya dengan menghilangnya Rica. Dia diduga turut serta mengendalikan perjalanan Veni dan Eko ke Kalimantan. “Tersangka ditangkap di Sagan, Kota Jogja saat dalam pengejaran ke Jawa Tengah dan sekitarnya,” bebernya.

Djuhandani mengatakan, peran Sigit dalam struktur Gafatar setara dengan wakil bupati. Hal itu dibuktikan ketika Eko dan Veni melaporkan seluruh perjalanan serta biaya adimistrasi dari dr Rica kepada Sigit. (riz/ong)