PURWOREJO – Tingkat kekerasan terhadap anak dari Januari-Juni 2016 mencapai 16 kasus. Ironisnya, kejadian yang ada didominasi kekerasan seksual. Angka ini dimungkinkan lebih banyak, karena ada keluarga yang menganggap tabu untuk mengungkap kejadian seperti itu.

Tingginya angka kekerasan sekual terhadap anak menjadi perhatian Ketua Harian Lembaga Swadaya Masyarakat Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LSM P2TP2A) Sri Susilowati. Dikatakannya, banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya kekerasan.

“Memang kami akui, dari waktu ke waktu kekerasan utamanya kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat. Padahal pemerintah telah menyiapkan berbagai perangkat untuk bisa menanggulanginya,” ujar Sri, kemarin (20/7).

Menurutnya, tidak sekadar perangkat aturan yang diluncurkan untuk melakukan pencegahan terhadap kekerasan seksual, namun juga diperlukan aksi bersama serta kepedulian banyak pihak.

Purworejo, lanjutnya, telah memiliki Perda tentang Kabupaten Layak Anak yang telah diikuti dengan beragam sosialisasi ke bawah hingga pembentukan gugus layak anak. “Tapi, peran lebih ada di tangan masyarakat atau lingkungan dan keluarganya,” ungkapnya.

Dengan kepedulian lingkungan yang tinggi seperti halnya saling mengingatkan anak agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif amat diperlukan. Terlebih, perkembangan teknologi membuat segala macam informasi mudah diperoleh. Hal ini, lanjut Sri, menjadi penyebab utama munculnya permasalahan tersebut. Selain itu, kurangnya perhatian dari orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup dan melalaikan fungsinya sebagai pendidik dan pengontrol anak. “Lainnya adanya keluarga yang tidak harmonis serta masalah ekonomi,” katanya. (udi/ila/ong)