DOK PRIBADI
PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN: Rabin Upakerti Rana sempat terjebak di Bandara Ataturk, Turki saat terjadi kudeta. Rabin saat itu dalam perjalanan dari Belanda menuju Indonesia.

Perjalanan Pertama ke Luar Negeri, Tak Menyangka Terjebak dalam Kudeta

Jumat (15/7) lalu bisa jadi merupakan hari yang paling berkesan bagi Rabin Upakerti Rana,14. Pelajar kelas IX ini harus merasakan masa-masa mencekam kudeta militer Turki di Bandara Ataturk. Bagaimana kisahnya?
BAHANA, Sleman
SEBUAH rumah di Candi Dukuh, RT 04 RW 02 Ngaglik, Sleman tampak asri. Meski siang terik menyengat, namun suasana di rumah tersebut tampak sejuk karena banyaknya pepohonan yang tumbuh.

Di beranda, tampak remaja lelaki barkaus putih dengan menggunakan celana jeans. Dengan ramah remaja berkulit sawo matang itu mempersilakan Radar Jogja masuk. Di beranda, dua anjing kampung peliharaan Rabin tampak sedang asyik bermain.

Wajah Rabin tidak tampak terlihat tidak segar. Aura jetlag sepertinya masih menaungi setelah melakukan perjalanan panjang dari Belanda menuju Indonesia.

Ya, Rabin baru tiba di Bandara Adisutjipto pada Minggu (10/7). Kisah terjebaknya Rabin, di Bandara Ataturk bermula saat diahendak melakukan perjalanan pulang setelah selama sebulan berada di Belanda. Liburan kali ini dimanfaatkan olehnya untuk mengunjungi sang ibu, Fica Karyadi yang kini menetap di Negeri Kincir Angin itu.

“Ini perjalanan saya ke luar negeri pertama kali. Tidak ada firasat apapun sebelumnya jika bakal terjebak dalam kudeta,” jelas Rabin.

Dia menjelaskan, pukul 20.00 waktu Belanda, dia lepas landas dari Bandara Schiphol Amsterdam menggunakan Turkish Airlines untuk transit di Ataturk. Namun, setibanya di bandara, terdapat sejumlah keanehan. Ketika itu sekitar pukul 24.00, tidak ada lagi petugas di bandara. “Pelayan gerbang bandara saja tidak ada,” jelasnya.

Di dalam bandara, terjadi penumpukan penumpang yang sangat padat. Di layar informasi, tampak penerbangan ke segala tujuan mengalami delay sampai waktu yang tidak ditentukan.

Dia mengisahkan malam tersebut, situasinya cukup mencekam. Apalagi ketika dia melihat sekelompok orang berlari berdesak-desakan dari lantai atas bandara menuju ke lantai bawah tanpa alasan yang jelas. Tidak hanya itu, bahkan ada penumpang yang mencoba bersembunyi di dalam toilet.

“Saya tidak mengerti apa yang terjadi. Mau cari informasi juga nggak bisa karena tidak mengetahui password wifi bandara,” jelasnya.

Selama beberapa jam di dalam bandara, dia tidak mengerti harus berbuat apa. Ketakutan makin melingkupi ketika dari angkasa terdengar suara ledakan. Terdengar pula suara pesawat-pesawat tempur melintas di atas bandara. “Ada sekitar lima ledakan di langit bandara,” jelasnya.

Perasaan hati yang berkecamuk karena takut dan bingung melihat situasi yang terjadi di dalam bandara mulai reda setelah dia berkenalan dengan seorang warga Malaysia. Kebetulan warga Malaysia ini yang juga akan pulang ke negara asalnya. Dengan sahabat baru ini, dia banyak dibantu. Mulai menceritakan informasi yang sedang terjadi hingga mengabari sang ibu.

“Dari gadget teman ini saya baru tahu bahwa ada kudeta,” jelasnya.

Di dalam bandara, lanjut Rabin, situasi tanpa petugas dimanfaatkan oleh penumpang untuk menjarah makanan. Dia mengaku turut mencicipi hasil jarahan yang dibagi-bagikan ke penumpang.

Sekitar pukul 04.00 dini hari, segerombolan orang dari luar bandara masuk ke dalam. Di dalam bandara mereka berbahasa Turki berteriak menyanyikan yel-yel Presiden yang sedang berkuasa. “Yang saya dengar dari teman, pemberontak berhasil dilumpuhkan,” terangnya.

Dia menjelaskan, setelah pukul 06.00, barulah dinyatakan situasi bandara aman dan diumumkan penerbangan kembali normal. “Saya baru bisa melanjutkan perjalanan ke Indonesia sekitar jam 12 siang,” tandasnya. (ila/ong)