GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GEMULAI: Penari sanggar tari Krisna Mukti dari Kretek menampilkan Tari Nyawiji Tekad Makaryo Bangun Desa dalam upacara peringatan HUT Kabupaten Bantul ke-185 di Lapangan Trirenggo, Bantul, DIJ, Rabu (20/7).
BANTUL – Satu lagi gagasan disampaikan Bupati Bantul Suharsono bertepatan dengan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-185 Bantul di Lapangan Trirenggo, kemarin (20/7). Orang nomor satu di Bumi Projo Tamansari itu menjanjikan pembangunan dari bawah. Gagasan itu terangkum dalam satu laporan bupati kepada Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X selaku inspektur upacara.

“Amanat Perubahan Bantul 2016 salah satunya menghasilkan sarasehan rakyat Bantul di tingkat pedukuhan dan masyarakat bawah,” ucap Suharsono.

Sarasehan ini bertujuan menjaring berbagai aspirasi warga hingga tingkat paling bawah. Kendati demikian, Suharsono berjanji tidak hanya duduk manis menunggu berbagai hasil rembugan di tingkat akar rumput itu. Pensiunan perwira menengah Polri ini mengaku akan meluangkan banyak waktu berkeliling ke seluruh pedesaan di wilayah Bantul. “Cara ini efektif,” lanjutnya.

Tak hanya menjaring aspirasi, Suharsono meyakini pendekatan ini juga efektif mengurai berbagai problem sosial di tengah masyarakat. Mengingat, yang dibutuhkan masyarakat tak sekadar pembangunan fisik. Lebih dari itu, juga ketenteraman. “Peran negara harus bisa hadir di tengah masyarakat,” tandasnya.

Suharsono mengungkapkan, pendekatan langsung ini sebagai salah satu implementasi jargon Makaryo Mbangun Deso. Semangat ini yang diusungnya sejak awal masa kampanye pilkada Bantul 2015 lalu. Suami Erna Kusmawati ini optimistis dengan semangat itu mampu mewujudkan harapan baru di wilayah selatan DIJ ini. Yakni, terwujudnya masyarakat Bantul yang sehat, cerdas, dan sejahtera berdasarkan nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, dan kebangsaan dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia.

Sekretaris Daerah Bantul Riyantono melihat tidak ada perbedaan mencolok dalam rangkaian peringatan HUT ke-185 ini. Mirip seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, Toni, sapaannya, melanjutkan, ada perbedaan tajam gaya kepemimpinan Bupati Bantul saat ini dengan periode sebelumnya. Bupati sekarang cenderung ingin terjun langsung ke lapangan menjaring aspirasi masyarakat. “Mendengar apa yang diinginkan rakyat,” bebernya.

Dengan model seperti ini, Toni tak sungkan melayangkan gaya kepemimpinan bosnya di pemkab itu. Sebab, dengan metode ini nantinya bisa terumus program pembangunan. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Kalau bisa menyentuh lapisan paling bawah berarti pembangunan berhasil,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X berpesan agar seluruh elemen masyarakat Bantul mampu memahami beragam perubahan. Seperti alam dan tatanan sosial. Sebab, ada dampak luar biasa yang ditimbulkan dari perubahan dua entitas itu. “Contohnya seperti pancaroba dan radikalisme agama,” ucapnya. (zam/ila/ong)

Terjun ke Bawah, Dengarkan Keinginan Warga