GUNAWAN/RADAR JOGJA
MITIGASI: Sejumlah siswa baru SMAN 1 Wonosari membawa salah satu teman ke titik aman dalam simulasi penanganan bencana gempa bumi, kemarin (20/7)
GUNUNGKIDUL – Pengenalan lingkungan sekolah (PLS) sudah memasuki hari terakhir. Di SMAN 1 Wonosari, sebanyak 216 siswa dibekali penanganan bencana (mitigasi). Tak hanya itu, mereka juga diajak untuk mengawasi perilaku korup di sekitarnya.

Ketua Panitia PLS SMAN 1 Wonosari Yeremias mengatakan, selama masa orientasi memberikan sejumlah program khusus terhadap anak didik baru di antaranya materi mengenai korupsi. “Jadi, siswa bisa melapor jika menemukan dugaan korupsi yang dilakukan oleh intansi apa saja,” katanya, kemarin (20/7).

Melapor kepada siapa? Kata Yeremias, siswa bisa mengadu kepada wali murid, bagian kurikulum atau lembaga pengaduan yang ada di sekolah. Laporan itu nanti akan diakomodasi. Tidak perlu takut, setiap pelapor dijamin kerahasiaannya, terlebih lembaga pendidikan telah bekerja sama dengan inspektorat daerah.

“Jadi, konsep pemberantasan korupsi ini berupa pengenalan kepada siswa agar tidak korupsi. Juga tak takut untuk melapor,” ujarnya.

Terlebih, saat ini di SMAN 1 Wonosari sudah ada asosiasi pelajar antibudaya korupsi, namanya Kobrayati (korps brigadir budaya anti korupsi). Asosiasi tersebut sudah terbentuk sejak 2010 beranggotakan perkumpulan pelajar.

“Dengan demikian anak-anak mengatahui alur kemana harus melapor jika menemukan dugaan korupsi,” terang mantan guru olahraga SMAN 1 Patuk itu.

Selain materi korupsi, pihaknya juga bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul untuk memberikan materi kebencanaan. Harapannya, siswa mengenal potensi ancaman bencana saat berada di lingkungan sekolah.

“Kondisi geografis Gunungkidul rawan terhadap gempa bumi atau bencana lain sehingga ilmu kebencanaan juga diberikan dalam PLS,” ucapnya.

Nah, selama PLS pelajar juga diberi materi dan simulasi pengurangan risiko bencana, sehingga ketika bencana datang, mereka sudah siap.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana BPBD Gunungkidul Sumarno mengatakan, pemberian materi selama PLS merupakan salah satu langkah BPBD untuk menyiapkan sekolah rintisan siaga bencana. “Siswa perlu diberikan pemahaman tentang bencana sehingga siswa tahu apa yang dilakukan saat bencana terjadi,” kata Sumarno.

Dia menjelaskan, dalam pengenalan mitigasi bencana, ratusan siswa menguikuti simulasi adanya gempa bumi saat mereka berada di sekolah. Digambarkan alarm tanda bahaya berbunyi. Siswa berupaya menyelamatkan diri ke titik aman, sebagian lain membantu korban jatuh pingsan. (gun/ila/ong)