Berada di keluarga pecinta bola membuat Raymond lebih termotivasi untuk bisa tampil lebih baik di setiap laga yang dijalani. Meski kini jauh dari orangtua, namun komunikasi terus dilakukan, begitu halnya ketika dirinya akan melakoni pertandingan.

“Pasti telpon ibu dulu, minta doa restu. Karena doa ibu pasti mujarab,” kata anak bungsu dari enam bersaudara ini.

Darah pemain sepakbola menurun dari sang kakek, yang juga merupakan mantan pemain Timans dan Persija di eranya. Penggemar Alessandro Del Piero mulai melatih skill sejak usia 8 tahun. Keputusannya untuk menggeluti sepakbola didukung sepenuhnya oleh keluarga. Tak terkecuali saat dirinya memutuskan untuk hijrah ke Jogjakarta dan tinggal jauh dari orangtua.

Pemain yang sudah bergabung dengan PSIM Jogja sejak 2015 ini sudah merasa nyaman, bukan hanya dengan pemain dan pelatih, tapi lingkungan kota dan juga suporter.

“Suporternya luar biasa. Dulu awal-awal sempat bikin grogi, tapi sekarang justru bikin termotivasi saat bermain,” jelasnya.

Tidak hanya di lapangan atau saat latihan saja, Raymond juga banyak mencuri ilmu dari Ferdinand Sinaga, yang tak lain adalah kakak iparnya. Di setiap kali momen pertemuan, Raymond memanfaatkannya untuk sharing apapun, terutama tentang sepak bola.

“Kemarin saat pulang kampung juga, pasti ngobrol dan jalan bareng,” paparnya, yang diam-diam ingin seperti sang kakak ipar yang sudah pernah menjajal Timnas Senior.

Baginya, pemain yang kini memperkuat PSM Makasar ini merupakan salah satu idola dan juga motivator baginya.

“Ya saya memang mengidolakan Bang Ferdinand, ingin suatu saat seperti dia,” tandasnya.(dya/dem/ong)