JOGJA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendatangkan lokomotif generasi terbaru seri CC 206 General Elektric (GE) di Balai Yasa Jogjakarta kemarin (22/7). Kehadiran mesin peluru yang bisa melaju hingga 100 kilometer per jam itu sebagai bagian proses peremajaan yang terus dilakukan perusahaan pelat merah itu.

“Selain tenaganya lebih besar, mencapai 2.250 horse power, lokomotif baru ini memiliki dua kabin. Itu keunggulannya,” ujar Manager Quality Control Balai Yasa Jogjakarta Entang Sutisna disela proses perakitan mesin lokomotif di Balai Yasa kemarin.

Laju 100 kilometer per jam itu berdasarkan pembatasan kecepatan maksimal kereta api berdasarkan kekuatan rel di Indonesia. Entang mengkiam, kekuatan penuh CC 206 GE sebenarnya bisa mencapai 150 kilometer per jam.

Dengan tenaga yang lebih besar, lokomotif buatan Amerika Serikat itu diyakini mampu menarik lebih banyak gerbong dibanding mesin lain yang dimiliki PT KAI selama ini. CC 206 GE diperkirakan mampu menarik hingga 30 gerbong. Bisa untuk gerbong penumpang maupun barang. “Total berat beban yang mampu ditarik bisa lebih dari seribu ton,” lanjutnya.

Kelebihan lain penarik gerbong ini terletak pada sistem kontrol atau kendali pengoperasian yang sudah terpusat dan berbasis komputerisasi. Jika ada kerusakan sedikit saja, bisa termonitor di layar kendali. Termasuk kontrol angin untuk rem di semua gerbong. Karena soal pengereman sangat mempengaruhi sistem lokomotif.

Meski didatangkan dari Amerika Serikat, sebagian besar material lokomotif tetap menggunakan produk lokal. Seperti untuk bogie. Perangkat roda penggerak itu dirakit di Inka Madiun.

Entang memprediksi lamanya proses perakitan butuh waktu seminggu. Hingga semua lokomotif bisa digerakkan. “Setelah itu ada tes statis dan dinamis, kemudian diajukan sertifikasi kelayakan,” ungkapnya.

Manager Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta Eko Budianto menambahkan, pada 2016 ini Balai Yasa merakit 11 lokomotif seri CC 206. Untuk melengkapi 39 lokomotif serupa yang sudah dirakit pada tahun lalu. Nantinya 50 lokomotif itu akan dioperasikan di Jawa dan Sumatera. “Ini juga bagian peremajaan kereta dan lokomotif yang sudah tua. Agar kedepan kereta api benar-benar andal,” ujarnya. (pra/yog)