JOGJA – Ancaman dampak cuaca ekstrem belum berhenti. Masa pergantian musim penghujan ke kemarau telah lewat. Namun, kemarau saat ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Disebut kemarau basah, karena curah hujan diprediksi tetap cukup tinggi sepanjang tahun.

Prakirawan Pos Klimatologi Stasiun Radar Cuaca Jogjakarta Romadi mengatakan, musim kemarau di Indonesia yang seharusnya terjadi sejak Juli. Adanya pengaruh global, La Nina, menyebabkan musim kemarau tahun ini akan disertai hujan.

Intensitas hujan bervariasi di setiap daerah dan tak terjadi setiap hari.

“Adanya tekanan rendah di sebelah barat Pulau Sumatera dan Jawa saat ini berpotensi memicu tingginya kecepatan angin, sehingga menyebabkan gelombang tinggi di pesisir selatan Jawa,” jelasnya kemarin (22/7). Dari pantauannya, gelombang tinggi bisa mencapai 3,5 meter.

Lebih lanjut, Romadi memaparkan bahwa berdasarkan prakiraan iklim tiga bulan ke depan curah hujan masih cukup tinggi. Intensitas hujan cukup tinggi terpantau di Gunungkidul, Kulonprogo, dan bagian utara Sleman.

Nelayan dan petani menjadi dua mata pencaharian paling terdampak La Nina. Romadi mengimbau orang-orang yang menggeluti dua profesi tersebut agar selalu memantau informasi prakiraan iklim dan cuaca dari Stasiun Radar Cuaca.

Setidaknya, informasi prakiraan iklim berlaku selama tiga bulan.

Romadi mengingatkan, La Nina menyebabkan iklim tidak menentu. Sehingga harus diantisipasi sejak awal. “Nelayan harus hati-hati gelombang tinggi. Petani harus bisa memperhitungkan musim tanam,” tuturnya.(riz/yog/ong)