KOMPAK: Dari kiri Rizqa Salsabila Firdausia, Khusnul Darayah (duduk), Qotru Alnaday, Mukhijab

Anak Ambil S1 dan S2, Bapak Tempuh Program Doktoral

Nama Mukhijab mendadak tenar. Bagi kalangan jurnalis, Mukhijab sebenarnya bukanlah sosok asing. Belakangan, nama wartawan senior itu kerap menghiasi media massa. Ada apa gerangan?
RIZAL SETYO NUGROHO, Sleman
Seringnya meliput dunia kampus mendorong Mukhijab tak mau berhenti dengan gelar sarjana yang disandangnya. Sambil menyelam minum air. Disela menjalankan profesinya, jurnalis sebuah surat kabar yang berpusat di Jawa Barat itu getol mencari informasi program pendidikan pascasarjana.

Tekadnya pun membuahkan hasil. Tahun ini, Mukhijab diterima kuliah S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menariknya, dia tak sendirian. Di UGM, Mukhijab ditemani dua peterinya, Rizqa Salsabila Firdausia dan Qotru Alnaday, yang juga diterima di kampus Bulaksumur. Bagi Mukhijab, prestasi yang diraih bersama dua buah hatinya itu sebagai mukjizat.

Ibarat mimpi yang akhirnya terwujud. Suatu ketika, Mukijab pernah bergumam. Bagaimana jika seandainya ia dan kedua putrinya kuliah di kampus yang sama. Saat itu warga Patangpuluhan, Kota Jogja itu tidak terlalu banyak berharap. Hanya angan-angan yang kebetulan terbersit. Tapi siapa sangka, ternyata hal itu benar terjadi.

“Awalnya hanya angan-angan sebuah gurauan. Ternyata ini skenario Allah. Betul-betul terjadi,” katanya kepada Radar Jogja, Jumat (22/7).

Bagi Mukhijab, menjejakkan kaki di bangku S3 bukanlah tanpa perencanaan. Itu sudah dipikirkannya sejak lima tahun lalu. Tapi baru mulai tergerak pada 2015 kemarin. “Tapi baru diterima sekarang. Prosesnya memang lama dari menyiapkan proposal dan tema,” tutur Mukhijab yang punya “sampingan” sebagai dosen tamu di perguruan tinggi swasta di Jogjakarta.

Ternyata, keberhasilan suami Khusnul Darayah itu disusul Qotru Alnaday yang lulus dari SMA 2 Kota Jogja tahun ini. Qotru memang berencana mendaftar S1 di UGM. “Sudah cerita kalau selesai SMA ingin daftar Perawatan Gigi Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Saya sebagai orangtua, ya, mendukung,” lanjut Mukhijab.

Di saat hampir bersamaan, putri sulungnya Rizqa Salsabila Firdausia yang juga telah lulus di jurusan farmasi sebuah perguruan tinggi swasta di DIJ mengungkapkan keinginannya mendaftar S2 di UGM. Namun, saat itu Rizqa yang tengah menempuh pendidikan profesi bercerita jika masih ragu, karena kepikiran soal biaya masuknya.

“Kami saling terbuka dan sharing mengenai banyak hal, termasuk pendidikan anak-anak. Saya bilang, soal biaya tidak usah di pikirkan. Nanti pasti ada jalan, Gusti Allah ora sare. Lalu saya dorong untuk mendaftar,” ungkapnya.

Sejak anak-anaknya masih kecil Mukhijab memang selalu mengingatkan arti penting pendidikan. “Saya hanya wartawan, tidak punya harta banyak, karena itu saya hanya bisa mewariskan ilmu saja. Biar anak sekolah setinggi-tingginya,” lanjut pria paruh baya itu.

Diluar dugaan, nama Rizqa muncul di papan informasi lolos seleksi Ilmu Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Sementara Mukhijab diterima di program S3 Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Kebahagiaan keluarga kecil itu makin lengkap ketika pengumuman mahasiswa S1 yang keluar belakangan. Qotru Alnaday diterima di Fakultas Kedokteran Gigi.

Sama-sama diterima di UGM memang sebuah berkah yang tidak semua orang diberi. Di sisi lain, Mukhijab masih harus memutar otak untuk membiayai kuliahnya beserta dua anaknya.

“Saya belum punya beasiswa, memang biaya banyak. Saya tetap berusaha dapat beasiswa entah dari mana nanti. Tapi yang jelas beasiswanya donga. Pasrah kepada Tuhan,” tuturnya.(ong)