Heri Susanto/Radar Jogja
KREATIF: Muhammad Hanif Wicaksono, Zahira Sofa dan Audy Azizah Rahma Alya yang meneliti soal keinginan siswa SMP terhadap calon wali kota 2017.

Ada Survei Pilwali hingga Obat Luka Sayat

Masih ingat dengan dengan Mobil Esemka yang mampu menaikkan nama Wali Kota Solo Joko Widodo? Mobil itu merupakan karya anak bangsa yang masih berseragam sekolah. Ternyata, kreativitas anak bangsa, terutama di Kota Jogja, juga tak kalah dalam memberikan sumbang sih terhadap kehidupan.

HERI SUSANTO, Jogja
MINAT industri dalam negeri di Indonesia memang tak sebagus dengan di luar negeri. Pola pikir konsumtif membuat industri di Indonesia lebih memilih untuk menjadi distributor produk luar negeri. Ketimbang harus bersusah payah mengembangkan berbagai penemuan anak bangsa yang sangat banyak dan berbagai macam jenisnya.

Di Kota Jogja sendiri, hampir tiap tahun setiap jenjang sekolah, mulai SMP hingga SMA, selalu diselenggarakan lomba karya ilmiah. Seperti yang saat berlangsung di Taman Pintar hingga kemarin (20/7). Lomba karya ilmiah tingkat SMP yang diikuti seluruh sekolah di Kota Jogja.

Dalam pameran itu, ada banyak kreasi. Mulai survei pemilihan wali kota (Pilwali) versi anak SMP yang belum memiliki hak pilih, sampai pengembangan teknologi. Itu semua dilakukan anak-anak yang ada masih belum dewasa.

Seperti Laksita Kira dari SMP N 1 Kota Jogja. Siswa kelas VIII ini mampu menemukan inovasi plester obat luka sayat herbal. Ia menemukan keampuhan dari umbi rumput teki dalam mengobati kelinci dan mencit yang jadi uji coba.

“Ada perbedaan kelinci atau mencit yang mengalami luka sayat dikasih ekstrak umbi rumput teki, lebih cepat sembuh dan beraktivitas. Sedangkan yang tidak dikasih cenderung diam,” ujar Laksita di sela menunjukkan karya ilmiahnya (19/7).

Laksita mengaku, ekstrak umbi rumput teki itu tidak menimbulkan rasa perih. Berbeda dengan obat betadine yang selama ini beredar di masyarakat. “Tidak mengganggu aktivitas,” katanya.

Temuan Laksita ini sangat penting bagi kehidupan manusia. Terlebih anak-anak yang saat terkena luka sayat pasti enggan diobati betadin karena harus menahan rasa perih. Tapi, temuan ini belum tentu bisa diproduksi masal. Tanpa ada ketertarikan dari industri untuk melakukan pengembangan.

Masih banyak karya anak SMP lain yang dipamerkan. Di antaranya soal politik, berdasarkan anak SMP. Mereka meneliti soal keinginan siswa SMP terhadap calon wali kota yang akan dipilih tahun 2017.

“Sebanyak 53 persen dari 107 responden yang semuanya siswa SMP dan MTs di Kota Jogja menginginkan wali kota yang muda dengan usia 36 tahun sampai 45 tahun,” kata Zahira Sofa, bersama dua rekannya, Audy Azizah Rahma Alya dan Muhammad Hanif Wicaksono.

Zahira mengatakan, meski siswa SMP belum memiliki hak memilih, aspirasi mereka juga sangat penting. Aspirasi inilah yang mereka tampung agar bisa didengar wali kota yang terpilih nanti. “Seperti keinginan siswa SMP untuk memperbanyak ruang terbuka hijau. Bukan malah mal,” tandasnya.

Menanggapi temuan-temuan yang juga bisa bermanfaat untuk kehidupan manusia itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Edy Heri Suasana mengaku, selama ini fasilitasi memang hanya berupa lomba. Temuan anak-anak SMP itu belum akan dilakukan produksi masal.

“Setelah lolos lomba karya ilmiah tingkat kota, ya diteruskan ke tingkat provinsi. Bahkan ada dari Kota Jogja yang sampai tingkat dunia,” ujarnya.

Di lain pihak, Kepala Taman Pintar Yunianto Dwisutono siap untuk memfasilitasi temuan siswa SMP itu. Taman Pintar akan membuatkan tempat untuk display pemenang lomba karya ilmiah itu.

“Tentunya akan dikemas yang sesuai. Nanti akan didisplay dengan wahana lain di koleksi Taman Pintar,” kata Yuni, sapaannya. (laz/ong)