JOGJA – Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIJ Paku Alam (PA) X menilai, saat ini penyebaran virus HIV/AIDS di Jogjakarta sudah cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang masuk, jumlah pengidap HIV/AIDS tertinggi justru pada usia produktif. Profesinya pun beragam, termasuk PNS, TNI dan Polri.

Hingga Maret 2016 total jumlah pengidap HIV/AIDS di DIJ berjumlah 3.334 orang. Mayoritas pengidap berusia 20-29 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Jumlah pengidap rata-rata setiap tahun bertambah 100-150 orang. Kasus terbanyak tersebar di Sleman, lalu disusul Kota Jogja.

Karena itu, PA X meminta para pengidab HIV/AIDS bersedia menjadi agen pencegahan dan penularan penyakit yang ditularkan oleh virus itu. Hal itu guna mencegah penyebaran HIV/AIDS yang lebih luas. Menurutnya, informasi dan sosialisasi HIV/AIDS akan lebih mengena kepada masyarakat jika disampaikan langsung oleh ODHA (orang dengan HIV/AIDS).

“Tentu akan berbeda jika yang menyampaikan adalah mereka (pengidap HIV/AIDS),” ujarnya.

PA X mengklaim, penanganan HiV/AIDS di DIJ tergolong lebih baik dari provinsi lain. Diantaranya, keberhasilan dalam penyadaran para pengidap HIV/AIDS usia anak-anak. “Penderita anak-anak diberi kesadaran ‘aku sudah kena’. Cukup sampai di sini saja,” ujarnya.

Sekretaris KPA DIJ Riswanto menambahkan, penyebab terbanyak penularan HIV/AIDS karena perilaku heteroseksual dan jarum suntik.

Selain menjadikan para pengidap sebagai agen penyadaran HIV/AIDS, upaya pencegahan penularan penyakit ini dengan menyelipkan materi pendidikan seksual pada kurikulum sekolah tingkat SMA. Guru olahraga ditunjuk sebagai penanggungjawab materi. “Yang tahu materinya guru itu. Dia yang bertanggung jawab menyampaikan kepada para siswa,” jelasnya.(pra/yog/ong)