GUNUNGKIDUL – Meski trennya menurun, angka perceraian di Kabupaten Gunungkidul masih tinggi. Terbukti, Pengadilan Agama (PA) Wonosari hingga tahun ini masih disibukkan dengan perkara terputusnya ikatan tali perkawinan.

Panitera Muda PA Wonosari Muslih mengatakan, jumlah perceraian di wilayahnya menduduki posisi kedua terbesar di DIJ setelah Kabupaten Sleman. Pada 2015 mengabulkan gugatan cerai 1.447 pasangan, didominasi pasangan dekat dengan pusat kota.

Kecamatan Wonosari tertinggi dengan 172 kasus, Semanu dengan 120 kasus, disusul Karangmojo sebanyak 116 kasus dan Ponjong 110 kasus. “Untuk tahun ini hingga bulan lalu saja kami sudah menangani 456 perkara perceraian,” kata Muslih kemarin (22/7).

Sebagai gambaran, usia pernikahan masih baru antara usia tiga hingga 10 tahun. Dikatakan, jumlah perceraian menurut umur, paling banyak kasus cerai antara usia 30 sampai 34 tahun. Kebanyakan permohonan perceraian datang dari pihak istri.

“Itu gambaran data 2015. Di dalamnya merupakan perkara gugat cerai suami sebanyak 1.010 kasus, sementara suami talak cerai istri hanya 437,” ujarnya.

Pasangan menikah kemudian bercerai, di antaranya mereka yang dahulu mengajukan dispensasi nikah. Terkait persoalan itu pihaknya meminta kepada pasangan suami istri untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga. Menumbuhkan cinta setiap saat, dan mengabaikan ego masing-masing.

“Banyak kasus kita jumpai, hadirnya media sosial menjadi penyebab adanya orang ketiga dalam pernikahan yang akhirnya pemicu terjadinya perceraian,” ungkapnya. (gun/laz/ong)