SETIAKY/RADAR JOGJA
RAGAM BUDAYA LOKAL: Peserta dari lima kelompok kesenian berusaha menampilkan terbaiknya dalam Festival Upacara Adat di Lapangan Denggung, Sleman, kemarin. Seperti kelompok yang menampilkan ogoh-ogoh tikus ini, dan upacara adat nyadran dari Gunungkidul.
SLEMAN – Ratusan peserta dari lima kelompok kesenian se-kabupaten/kota di DIJ memeriahkan Festival Upacara Adat di Lapangan Denggung, Tridadi, Sleman, kemarin (24/7). Kelima kelompok itu menampilkan tradisi dan nilai-nilai budaya suatu wilayah.

Seperti perwakilan dari Kota Jogja yang menampilkan Merti Code. Upacara budaya di sekitar Sungai Code ini dilakukan sebagai rasa syukur atas limpahan yang telah diberikan Tuhan terhadap Code. Upacara ini digelar untuk meningkatkan kesadaran warga agar tetap mejaga kelestarian Sungai Code.

Koordinator perwakilan Kota Jogja Totok Pratomo menuturkan, pihaknya melibatkan 140 orang untuk ikut serta dalam festival ini. Mereka disiapkan sejak sebelum Ramadan lalu. “Di festival ini kami mengangkat ritual Merti Code,” jelasnya.

Secara garis besar, terangnya, kelompoknya menceritakan mengenai Sungai Code yang pernah berjaya di mana di sungai ini sumber dari segala kehidupan terutama tempat mencari ikan. Hingga suatu ketika, keadaan sungai rusak akibat ulah manusia.

Sementara itu tuan rumah Sleman pada festival ini menampilkan perwakilan dari dusun Dayatan, Purwomartani, Kalasan. Sekitar 100 peserta menampilkan cerita upacara adat Umbul Kamulyan.

“Upacara ini menceritatakan rasa syukur di mana dulu dusun kami merupakan lahan gersang dan tiba-tiba terdapat umbul. Umbul ini yang membuat warga di kemudian hari mudah membuat sumur karena air tanah berlimpah,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengatakan, kegiatan ini menjadi upaya melestarikan upacara adat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dengan kegiatan ini, unsur perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan, tetap bisa dilakukan karena setiap tahunnya masyarakat diselenggarakan.

‪”Kami ingin masyarakat mengetahui keberadaan upacara adat di setiap desa. Ini kebudayaan yang harus dipertahankan,” jelasnya.

Dia menyebut, festival dirancang sebagai salah stau wujud penghargaan pemerintah, baik terhadap komunitas maupun kelompok pemerhati upacara adat. Harapannya, festival bisa memberikan manfaat yang lebih optimal bagi.

Apalagi di DIJ ada lebih dari 300 upacara. Mulai dari tahap kehidupan manusia, kematian, semangat gotong royong, hingga perwujudan rasa syukur. (bhn/laz/ong)