DWI AGUS/RADAR JOGJA
MUSIK CANGKEM: Konser Negeri Cangkem di Concert Hall TBY menambah khazanah musik di Jogjakarta.

Tutur, Omong-Omong, Matur lan Ngendhika

Sosok Pardiman Djojonegoro memiliki kekuatan tersendiri dalam dunia seni Jogjakarta. Salah satu produk yang terkenal adalah musik cangkem yang dikenal sebagai Acapella Mataraman. Akhir pekan kemarin, Pardiman bersama kelompoknya mengadakan Konser Negeri Cangkem di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

DWI AGUS, Jogja
ALUNAN musik terdengar merdu di Concert Hall TBY. Namun, ada yang berbeda dari musik yang terdengar itu. Suara musik itu tidak datang dari instrument. Bahkan para penampilnya, Acapella Mataraman, hadir dengan tangan kosong.

Meski begitu konser bertajuk Konser Negeri Cangkem ini berbobot. Bermodal mulut, sebanyak 12 penampil sukses menghibur penonton. Bahkan aksi mereka mampu membuat gedung Concert Hall dibanjiri penonton.

“Bicara musik tidak harus menyinggung penggunaan instrument. Berkaca pada fungsionalnya, musik merupakan bunyi,” ungkap penggagas konser Pardiman Djojonegoro.

Pardiman menuturkan, salah satu indra manusia yakni mulut, memiliki peran lebih. Bahkan bisa menghadirkan musik yang indah. Pendiri Acapella Mataraman ini sengaja mengemas konser dengan gaya yang berbeda. Eksplorasi indra cangkem atau mulut dengan acapella haruslah kuat. Sebab, mereka tampil tanpa pengiring alat musik sama sekali.

“Saya ibaratkan seperti melihat buah durian. Jangan dilihat dari luarnya saja karena terlihat sederhana. Tapi harus dibuka dan dirasakan agar tahu seperti apa cita rasanya,” jelasnya.

Konser ini, lanjutnya, ditata sedemikian apik dari berbagai segi konsep. Diawali dari tata panggung yang terlihat sederhana. Hingga tata cahaya yang fokus pada para pemain acapella. Selain itu, latar belakang juga dihiasi sebuah LCD projector untuk menguatkan konsep.

Mengawali konser, para pemusik cilik yang tergabung dalam Icipili Mitirimin unjuk cangkem. Para musisi belia ini terlihat tak kalah dengan para seniornya. Terlihat dari teknik membagi suara hingga tampilan yang menghibur para penonton.

Pardiman sengaja menata konser ini sesuai urutan usia. Barisan kedua para sesepuh yang tergabung dalam Acapella Mataraman. Aksi mereka terangkum dalam akhir pementasan melalui kolaborasi gamelan, acapella, dan seni tari.

“Jika dianalogikan dalam penuturan orang Jawa, pengurutan pertunjukan yang dimulai dari anak-anak, dewasa hingga eksperimen ini disebut dengan tutur, omong-omong, matur lan ngendhika. Materi-materi yang disajikan beragam sesuai usia para penampilnya,” jelas pemilik nama asli Fredy Pardiman ini.

Penampilan Icipili Mitirimin tak ubahnya seperti dolanan bocah. Para musisi cilik ini menghadirkan ragam tembang dolanan. Pemilihan tembang ini sendiri atas keprihatinan, redupnya dunia bocah yang sesungguhnya. Berkaca pada tayangan layar televisi yang kurang memihak pada anak-anak.

“Seperti lagu Kinanthi Mangu, Numpak Sepur dan Padang Bulan itu seru kalau dikemas seperti ini. Dalam setiap kemasannya juga garap humor. Jadi ada plesetan dari lirik aslinya yang membuat tertawa,” ujarnya.

Giliran para senior hadir dengan lagu-lagu yang berbobot. Uniknya, meski dikemas secara serius, namun Pardiman tetap mengemas ala gaya humor. Mulai dari lirik yang diplesetkan hingga dialog antar pemainnya diatas panggung.

Satu tembang yang cukup mencuri perhatian adalah You Raise Me Up. Pardiman dengan sukses membawakan tembang yang dipopulerkan oleh Josh Groban. Lagu bule ini terbukti mengundang decak kagum. (ila/ong)