KEPEDULIAN masyarakat di Kelurahan Rejowinangun akhirnya berbuah prestasi. Kelurahan tersebut berhasil lolos tingkat nasional. Bahkan, kelurahan yang berada di Kecamatan Kotagede tersebut berpeluang menjadi yang terbaik se-Jawa dan Bali.

Hal ini terlihat dalam evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri yang dilakukan pekan lalu, Kelurahan Rejowinangun bisa menyisihkan tiga kelurahan lain yang lolos se-Jawa dan Bali.

Wali Kota Haryadi Suyuti mengaku, keberhasilan Kelurahan Rejowinangun tak lepas dari berbagai inovasi yang dilakukan. Juga yang memiliki peran penting, partisipasi aktif dari masyarakat di kelurahan.

“Keberhasilan ini menambah lagi prestasi yang pernah diraih oleh Rejowinangun. Hal ini tak lepas dari berbagai inovasi yang dicetuskan lurah serta partisipasi luar biasa dari masyarakat,” jelas HS, sapaannya, saat menerima Tim Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan dari Kemendagri di halaman Kantor Kelurahan Rejowinangun Kamis (21/7) lalu.

HS mengatakan, dalam sistem pemerintahan, kelurahan berada di posisi penting. Kelurahan berperan sebagai tulang punggung pemerintahan. Makanya, keberhasilan pembangunan serta pelayanan publik tak lepas dari peran kelurahan.

“Kelurahan merupakan core business dari pemerintahan di Kota Jogja. Karena kelurahan merupakan pusat pelayanan masyarakat secara langsung,” tandasnya.

Dia melanjutkan, keberhasilan kelurahan dalam memberikan pelayanan dan perlindungan pada masyarakat akan menopang keberhasilan pembangunan kota.

Lurah Rejowinangun Retnaningtyas menjelaskan, berbagai inovasi di kelurahan yang dia pimpin itu telah dirintis sejak tahun 2010. Ini ditambah dengan potensi yang ada di Rejowinangun. “Inovasi andalan kami adalah sistem cluster, kami membagi wilayah Rejowinangun menjadi lima cluster. Di antaranya, cluster budaya, kerajinan, herbal, agro, dan kuliner,” katanya.

Sistem cluster tersebut menjadikan masyarakat lebih fokus mengembangkan potensi. Alhasil, dana yang diberikan pemerintah menjadi lebih terkonsentrasi. Selain sistem, hal lain yang mendongkrak Kelurahan Rejowinangun adalah pelayanan publik serta ketahanan pangan. Masyarakat aktif untuk menanam berbagai tanaman pangan di pekarangannya. Itu ternyata mampu berkembang hingga bisa memiliki nilai ekonomi.

“Selain itu, di bidang pelayanan kami memiliki Sistem Informasi Kampung yang berbasis RT,” jelas Retna.

Dari hasil tinjauan lapangan, Tim Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan Kemendagri yang terdiri dari lima anggota ini menyatakan apresiasinya terhadap berbagai inovasi yang ada di Rejowinangun. Selain itu, tim dari Kemendagri juga terkesan dengan keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan yang ada.

“Partisipasi masyarakat yang luar biasa ini tentu tak lepas dari guyubnya lurah yang mau terjun secara langsung di tengah-tengah masyarakat,” kata Ketua Tim Evaluasi Ratna Andriani.

Dia melihat, di Rejowinangun sudah sangat lengkap. Itu bisa menjadi inspirasi bagi kelurahan lain di Indonesia untuk berbenah membangun wilayahnya. (eri/ila/ong)