BANTUL – Proses persidangan kasus dugaan perdagangan orangutan mendapat perhatian serius Orangutan Friends Jogjakarta (OFJ).

Komunitas pecinta satwa langka yang tergabung dalam Centre for Orangutan Protection (COP) tersebut mendesak penegak hukum di Kejaksaan Negeri (Kejari) dan Pengadilan Negeri Bantul agar menghukum terdakwa, Hendrik Tri Setiawan, dengan hukuman setimpal. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter hewan itu dituding telah melakukan pelanggaran kode etik.

Kemarin (25/7), OFJ menggelar aksi teatrikal di depan kantor Kejari Bantul sebagai bentuk dukungan terhadap jalannya proses hukum.

Aksi damai belasan orang ini dimulai dengan pembentangan spanduk bertuliskan Justice for Animals. Kemudian, dilanjutkan teatrikal. Gerak-gerik dalam aksi teatrikal ini sebagai sindiran atas ulah dokter yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkot Semarang itu. Ulah Hendrik tak menggambarkan profesinya. “Dokter itu seharusnya melindungi hewan satwa beruang madu. Bukan malah terlibat dalam jual-beli salah satwa langka yang dilindungi itu,” ujar Koordinator OFJ Destya Suci disela aksi.

Tak dipungkiri, jual-beli satwa langka memang diperbolehkan. Diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan tentang Lembaga Konservasi. Namun, regulasi itu menggariskan bahwa asal-usul satwa langka harus berasal dari sumber yang sah.

Ini berbeda dengan ulah Hendrik. Dia diduga membeli satwa langka itu dari perdagangan ilegal. Meskipun digunakan untuk melengkapi koleksi Taman Margasatwa, Mangkang, Semarang.

“Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati juga sudah diatur jelas,” bebernya.

Afif Panji Wilogo, jaksa penuntut umum yang menangani perkara tersebut, menyambut positif kritik dan saran OFJ. Afif berjanji untuk mempertimbangkan semua aspirasi yang masuk sebagai pelengkap tuntutan di persidangan.

Afif tak menampik, secara hukum tindakan Hendrik memang menyalahi prosedur. Kendati demikian, jaksa tetap harus mempertimbangkan motif dibalik pembelian beruang madu tersebut. “Keterangan saksi-saksi lain juga akan kami pertimbangkan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Mabes Polri menangkap Hendrik pada 22 Februari di halaman Taman Marga Satwa, Mangkang. Penangkapan Hendrik merupakan pengembangan kasus jual-beli satwa langka yang melibatkan M Zulfan, pedagang hewan langka asal Bantul.(zam/yog/ong)