JOGJA – Mary Jane Fiesta Veloso, terpidana mati kasus penyelundupan narkotika asal Filipina lagi-lagi lolos dari ancaman peluru panas regu tembak. Meski telah lama nama ibu dua anak yang kini mendekam di Lapas Wirogunan, Kota Jogja itu masuk dalam daftar terpidana mati. Kini, nama Mary Jane pun belum masuk urutan eksekusi jilid III.

Kepala Kejaksaan Tinggi DIJ Tony Tribagus Spontana memastikan, Mary Jane belum akan dieksekusi dalam waktu dekat ini. Menurutnya, keterangan Mary masih diperlukan polisi Filipina untuk mengungkap jaringan narkoba internasional.

“Belum (akan dieksekusi). Masih nunggu proses hukumnya yang sedang berlangsung di Filipina. Kami tidak bisa memastikan kapan proses hukumnya selesai,” katanya Tony kemarin (26/7).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DIJ Pramono menyatakan, kondisi kesehatan Mary Jane dalam kondisi baik. Bahkan, Mary tetap mengikuti aktivitas normal di dalam lapas. Termasuk berolahraga voli. “Mary Jane baik-baik saja, dia terus mengikuti program pembinaan di lapas,” ungkapnya.

Mary Jane yang ditangkap pada awal 2010 itu divonis mati di Pengadilan Negeri Sleman akhir 2010. Setelah banding sampai tingkat kasasi, Mahkamah Agung tetap menguatkan putusan PN Sleman dan Pengadilan Tinggi DIJ. Pengajuan grasi kepada presiden juga ditolak pada akhir 2014. Upaya peninjauan kembali yang diajukannya pun tidak dikabulkan pada awal 2015.

Penundaan hukuman mati Mary setelah perekrutnya, Maria Christina Sergio, menyerahkan diri ke kepolisian Filipina. Maria mengaku meminta Mary menjadi kurir pembawa heroin sebanyak 2,6 kilogram ke Indonesia. Untuk kepentingan penyelidikan, kejaksaan sempat menawarkan beberapa opsi. Mulai diperiksa langsung, telekonferensi, hingga pertanyaan tertulis. (riz/yog/ong)