GUNTUR AGA/RADAR JOGJA

Buka Kembali Tali Silaturahmi, Diskusi dengan Tokoh Setempat

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menguatkan kembali hubungan dengan masjid-masjid kagungan dalem. Ini ditandai dengan peletakan tetenger di Masjid Mataram Kotagede belum lama ini.

DWI AGUS, Bantul
PELETAKAN tetenger di Masjid Mataram Kotagede dilakukan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, Minggu (24/7) lalu. Putri Mahkota Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengungkapkan, pertemuan dengan pengurus masjid kagungan dalem sangatlah penting. Masjid, khususnya masjid kagungan dalem, tak hanya sebagai tempat peribadahan.

Masjid-masjid ini, lanjutnya, pada zamannya menjadi penanda keagungan Islam. Selain itu juga menjadi ujung tombak budaya. “Ciri khas masjid kagungan dalem adalah budaya Mataram yang begitu melekat kuat didalamnya,” jelasnya.

Budaya-budaya ini tercermin dalam ragam kesenian. Salah satu yang menjadi karakter adalah adanya sholawatan kepada nabi. Tradisi ini telah dilakukan bertahun-tahun hingga pergantian generasi.

Di sisi lain, dia tidak menampik kegiatan safari masjid jarang diikuti olehnya. Namun dengan adanya kegiatan ini harapannya dapat membuka kembali tali silaturahmi. Selain itu, pertemuan langsung dengan takmir dan masyarkat sekitar masjid dapat mengintensifkan komunikasi.

“Dalam setiap pertemuan ada diskusi dengan tokoh setempat. Jadi kami tahu segala perkembangan, masalah dan plus minus di masjid kagungan dalem. Saya sendiri belum sempat mendatangi semua, tapi kalau nama-nama saya hafal,” katanya.

Pengirit Abdi Dalem Kemesjidan Pesarean dan Petilasan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat KMT H. Abdul Ridwan mengungkapkan, ini adalah titik awal. Tahun ini ada empat masjid yang mendapatkan kunjungan termasuk Masjid Mataram Kotagede.

Dua di antaranya adalah Masjid Pathok Negoro yaitu Masjid Pathok Negoro Dongkelan dan Masjid Pathok Negoro Babadan. Sebagai penutup juga digelar diskusi dan sholawatan di Masjid Gede Kauman Jogjakarta.

“Sebenarnya kegiatan seperti ini sudah rutin digelar setiap tahunnya. Tapi, untuk tahun ini kami tingkatkan dengan menambah jumlah masjid. Total masjid kagungan dalem sendiri ada 42 masjid, dengan dua masjid terletak di Nganjuk dan Kertosono,” jelasnya.

Ridwan menjelaskan, digelarnya acara ini untuk mengangkat budaya sholawatan. Saat ini tidak semua masjid kagungan dalem melestarikan budaya ini. Menurutnya, ini bisa terjadi karena adanya akulturasi budaya dari warga sekitar masjid.

Sholawatan yang dimiliki oleh masjid kagungan dalem berbeda. Mengusung ciri khas dan budaya Jawa sebagai tonggak pelafalan. Ini merupakan tetenger yang menjadi jari diri yang berbeda dengan masjid lainnya.

“Jadi yang kami pertahankan adalah budayanya. Bahkan untuk nama masjid biasanya mengadaptasi dari nama daerah setempat. Sekarang ada beberapa masjid yang berubah, kami dekati untuk mengetahui sejarahnya,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono menilai, masjid-masijd ini hadir sebagai artefak sejarah Jogjakarta. Penamaan masjid kagungan dalem tentunya memiliki sejarah yang tinggi. Termasuk melihat peran masyarakat dan wilayah tersebut dalam memajukan Karaton Jogjakarta.

“Cara bersama membangun dan memajukan Jogjakarta dari berbagai aspek. Dalam kesempatan ini juga melibatkan kelompok sholawat di masing-masing masjid. Tujuannya menunjukkan kearifan dan adiluhungnya warisan budaya Jogjakarta,” katanya. (ila/ong)