Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
CEKATAN: Anggota Badan SAR Nasional (Basarnas) mengevakuasi korban gempa bumi dalam simulasi penanganan bencana di Jombor, Sleman kemarin (26/7). Kegiatan ini bagian dari Insarag Asia Pacific Regional Earthquake Response Excercise 2016.
SLEMAN – Ratusan personel Badan SAR Nasional (Basarnas) ujuk kebolehan dalam simulasi penanganan bencana gempa bumi di Jombor, Mlati kemarin (26/7).

Kepala Basarnas Marsekal Madya FHB F Hendry Bambang Soelistiyo mengatakan, aksi personel berseragam oranye untuk membuka mata dunia. Menunjukkan bahwa Basarnas memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, berikut peralatan search and resque (SAR) yang memadai dan berstandar internasional.

Latihan digelar lima hari melibatkan personel Basarnas, TNI, dan Polri. Kegiatan itu merupakan bagian dari Insarag Asia Pasific Regional Earthquake Response Exercise 2016. Dihadiri perwakilan tim dari 24 negera anggota Insarag Asia Pasiific.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menyasar klasifikasi kelas yang lebih tinggi. Agar ke depan bisa terlibat dalam operasi-operasi penyelamatan di luar negeri,” ujar Bambang usai menyaksikan kegiatan simulasi.

Jenderal TNI AU dengan tiga bintang di pundak itu mengklaim, Basarnas memiliki teknologi canggih yang tak kalah dengan tim resque asing. Baik sarana darat, udara, maupun air. Di dalam maupun ruang gedung.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Krido Suprayitno mendorong keberadaan personil SAR untuk memiliki sertifikasi kompetensi sesuai bidang masing-masing. “Sertifikasi keahlian personel sangat penting dalam penanganan kebencanaan,” jelasnya.

Dalam simulasi, Basarnas mengerahkan ratusan personel dan dua unit helikopter, kendaraan amphibi jenis ATV roda delapan, tenda penyelematan, serta pernak pernik alat penyelamatan korban bencana. Simulasi menggmbarkan penyelamatan ratusan korban gempa di suatu bangunan dilakukan dalam waktu kurang lebih 45 menit. Seolah-olah telah terjadi gempa hebat di wilayah Jogjakarta yang mengakibatkan gedung-gedung roboh, sehingga menimbulkan kepanikan warga.

Banyak korban jiwa dan luka-luka. Namun, berkat kesigapan regu penyelamat, jumlah korban bisa diminimalisasi.

Proses penanganan korban pun berlangsung cepat. ATV mengangkut korban ke rumah sakit lapangan. Para korban diberi gelang melingkar di tangan sesuai dengan identitas dan kondisinya. Hitam untuk meninggal dunia, merah korban prioritas utama, kuning korban yang bisa ditunda, dan hijau bagi korban yang mampu berjalan.

Korban yang tidak mampu ditangani rumah sakit lapangan dirujuk ke rumah sakti terdekat. Sulitnya medan pencarian korban mengharuskan personel Basarnas terjun dari helikopter yang terbang persis di atas lokasi korban.(bhn/riz/yog/ong)