Dwi agus/radar jogja
GEMULAI: Para penari asal Keraton Kawitan Amertha Bumi, Kendal, Jawa Tengah saat pentas “Yogyakarta Gamelan Festival” di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM, Jumat (22/7)

Buah Keresahan dan Pengembaraan KPA Haryo Djoyonegoro Keliling Nusantara

Siapa tak kenal gamelan. Alat musik khas masyarakat Pulau Jawa yang bernada pentatonis. Keraton Kawitan Amertha Bumi memiliki bentuk ragam gamelannya lain daripada alat musik tradisional sejenis.

DWI AGUS, Jogja
Bagi masyarakat Jawa, nama Keraton Kawitan Amartha Bumi tentu masih terdengar asing. Ya, itu memang suatu wilayah yang dulunya berupa kerajaan kecil yang terletak di Kendal, Jawa Tengah. Gamelan termasuk salah satu warisan budaya kekayaan Kawitan Amartha Bumi. Dalam kesempatan tampil di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), para punggawa Amartha Bumi memamerkan perangkat gamelan unik itu.

“Gamelan sudah menjadi warisan keraton sejak jaman pendiri. Untuk mengiringi ritual, penari, gending, menyambut tamu atau sekadar hiburan. Gamelannya sendiri tetap ada hingga saat ini meski telah berubah bentuknya,” kata pimpinan rombongan Wangsit Sarjito disela acara di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM, Jumat (22/7).

Jika dicermati lebih teliti, bentuk gamelan yang dibawa memang berbeda. Tidak berbentuk wilahan, atau seperti gong. Tapi justru tampak seperti buah pisang. Lebih mirip seperti lempengan yang ditekuk sehingga membentuk celah. Meski bentuknya terkesan aneh, suara yang keluar dari semua jenis gamelan unik itu tak jauh berbeda dengan gamelan pada umumnya.

Menurut Wangsit, gamelan ini merupakan transformasi dari pusaka gamelan sebelumnya. Perubahan bentuk dilakukan petinggi Keraton Kawitan Amertha Bumi.

Diceritakan, konon dahulu kala Kanjeng Pangeran Adipati Haryo Djoyonegoro resah oleh pemikirannya sendiri. Dia khawatir, seiring perkembangan zaman gamelan akan tergusur dengan alat musik modern. Apalagi gamelan keraton yang berusia ratusan tahun sudah tidak laras lagi.

“Awalnya berpikiran apakah mungkin menghadirkan gamelan yang bentuknya tidak biasa. Hingga akhirnya diputuskan untuk berkeliling Nusantara. Tujuannya untuk mencari empu yang bisa membuat dan memperbaiki gamelan,” ujarnya.

Pengembaraan ini mempertemukan sosok Empu Dono dari Sukoharjo Jawa Tengah. Pemimpin kerajaan ini lalu menyerahkan gamelan pusaka kepada sang empu. Agar diselaraskan kembali suaranya. “Kala itu laras dari gamelan ini juga sudah suloyo, sehingga terdengar tidak enak saat dimainkan.

Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk merubah bentuknya. Sehingga jadilah gamelan kemanak seperti saat ini,” jelasnya. Pengerjaan yang dilakukan 30 tahun lalu ini melalui beberapa ekseperimen. Gamelan kemanak memiliki bentuk yang khas. Teknik yang digunakan adalah ngelinting (menggulung) lempengan perunggu menyerupai pisang.

Suara yang dihasilkan berasal dari celah lempengan. Mengandalkan resonansi ketika gamelan ini dipukul. Selain itu untuk menguatkan suara, pangkon gamelan juga terdapat tabung resonansi. Ini terlihat ketika gamelan dipindahkan dari pangkonnya.

Cara dan teknik bermain gamelan ini juga berbeda. Kemanak, misalnya. Pada perangkat gamelan biasa cukup dipukul dari atas, kemanak unik ini dibunyikan dengan cara dipelesetkan. Pengrawit memegang tabuh secara menyamping, sehingga pukulan diplesetkan diatas kemanak. Untuk mengurangi dengung ketika dipukul.

Wangsit menuturkan, bentuk baru gamelan kemanak membuktikan seni tradisi dapat berkembang. Meski tergolong sebagai pusaka, gamelan tetap eksis dan tetap selaras dengan dinamika zaman. “Bagus responnya, terbukti beberapa pemain di kelompok ini adalah anak muda. Disatu sisi kami tetap mempertahankan pola permainan sesuai kiblat keratin,” tuturnya.

Dalam YGF 2016 para pengrawit Keraton Kawitan Amertha Bumi memainkan dua gending. Doa Keblat Papat yang melambangkan persatuan dan repertoar berjudul Nowo Songo yang dikemas dalam sebuah tarian. ” Pentas seperti ini biasa dibawakan saat ritual-ritual kerajaan. Kami sengaja hadirkan disini untuk mengenalkan kekayaan seni budaya Keraton Kawitan Amertha Bumi,” ungkap Wangsit.(yog/ong)