BANTUL – Aksi komunitas Orangutan Friends Jogjakarta (OFJ) di halaman Kejaksaan Negeri Bantul, Senin (25/7) lalu, tidak begitu berpengaruh. Nyatanya, tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Afif Panji Wilogo terhadap terdakwa Tri Hendrik Setiawan pada sidang di Pengadilan Negeri Bantul, kemarin (26/7) cukup ringan. Hanya empat bulan penjara dan denda Rp 5 juta subsider kurungan satu bulan. Jauh lebih ringan dari asprirasi komunitas yang tergabung dalam Centre for Orangutan Protection (COP) ini.

Koordinator OFJ Destya Suci sudah mendengar perihal tuntutan JPU. Dia mengaku kecewa dengan ringannya tuntutan JPU. Padahal, terdakwa bisa dituntut dengan hukuman lima tahun penjara. “Tetapi kenyataan berkata lain,” ucap Destya singkat.

Afif Panji Wilogo menegaskan, terdakwa memang bersalah. Terbukti melakukan salah satu tindak pidana yang diatur dalam Pasal 21 ayat 2 huruf A juncto pasal 40 ayat (2) UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Yakni, memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup.

Kendati demikian, selama persidangan terungkap sejumlah fakta yang meringankan terdakwa. Terdakwa yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter hewan itu membeli beruang madu bukan untuk kepentingan pribadi. Melainkan untuk menambah koleksi Taman Marga Satwa Mangkang, Semarang. Terlebih, pembelian itu dengan uang pribadi. “Tuntutan itu sudah sesuai,” tegas Afif.

Seperti diberitakan, Ditipiter Mabes polri mengamankan Hendrik Tri Setiawan di halaman Taman Marga Satwa Mangkang, Semarang, Februari lalu. Polisi juga mengamankan beruang madu yang dibeli dengan harga Rp 6,5 juta. Penangkapan PNS di lingkungan Pemkot Semarang ini hasil pengembangan kasus jual-beli satwa langka yang melibatkan seorang pedagang bernama M. Zulfan. Pedagang satwa langka asal Bantul ini sendiri telah divonis PN Bantul dengan sembilan bulan penjara pada 20 Juni lalu. (zam/laz/ong)