JOGJA – Pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan kembali dituding sebagai biang kegagalan Kota Jogja dan Sleman mendapatkan Adipura. Salah satunya karena belum menerapkan pengolahan sampah dengan sanitary landfill.

Kepala Balai Pengelolaan Infrastruktur Sanitasi dan Air Minum Perkotaan, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Energi dan Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Kuspramono berdalih, peralatan yang ada di TPA Piyungan tak bisa digunakan untuk sanitary landfill. Menurutnya, pascaperalihan pengelolaan dari Sekber Kartamantul ke pemprov banyak peralatan yang rusak dan tidak sesuai peruntukkannya.

“Ada alat pengeruk yang ternyata bukan untuk sampah. Buldoser yang tersedia pun tak layak digunakan, terutama saat musim hujan,” bebernya kemarin (26/7).

Pihaknya sudah membeli peralatan baru tahun ini. Termasuk pengeruk khusus sampah. Langkah tersebut diambil guna menjalankan amanat UU No. 18 Tahun 3008 tentang Pengelolaan Sampah, yang mewajibkan sanitary landfill. “Alatnya sudah ada tinggal pelatihan petugasnya. Segera akan dioperasikan,” ujarnya.

Kendati demikian, Kuspramono tak berani menjamin seratus persen pengelolaan sampah di TPA Piyungan bisa lebih baik pada 2017. Dia mengaku akan berusaha mengelola sampah sesuai ketentuan.

Di bagian lain, Kuspramono mengelak tudingan bahwa kondisi TPA Piyungan sebagai satu-satunya kambing hitam gagalnya Kota Jogja dan Sleman meraih Adipura. Menurutnya, saat penilaian awal, TPA Piyungan sudah masuk standar dengan nilai 72,65. Tapi saat proses klarifikasi, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan datang tanpa memberi tahu pengelola saat sedang hujan. “Kalau kondisinya hujan sudah sulit,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PUP-ESDM DIJ Rani Sjamsinarsi menambahkan, pengelolaan TPA Piyungan memang menggunakan sharing anggaran antara pemprov dan kabupaten/kota. Nominalnya disesuaikan dengan jumlah sampah yang dibuang. Tarifnya Rp 24 ribu per ton. “Tetap ada kontribusi yang masuk ke kas provinsi. Paling besar dari Kota Jogja,” jelas Plt Sekprov DIJ itu. (pra/yog/ong)