SKIZOFRENIA adalah suatu kondisi dimana penderita mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Menurut Ketua Seksi Skizofrenia Perhimpunan Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Kusumawardani menjelaskan gejalanya ada dua kategori, yaitu positif dan negatif.

Gejala negatif skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada dalam diri orang kebanyakan. Gejala negatif berkembang bertahap hingga akhirnya memburuk. Seperti enggan bersosialisasi, kehilangan konsentrasi, pola tidur berubah, kehilangan minat, dan motivasi dalam hidup. “Gejala positif menggambarkan tanda-tanda psikotik yang muncul dalam diri seseorang akibat skizofrenia,” jelasnya dalam acara Inisiasi Sistem Rehabilitasi Pasien Skizofrenia di DIJ, kemarin (27/7)
Menurutnya, tidak ada cara pasti mencegah skizofrenia. Namun, pengobatan secara dini dapat membantu mencegah kekambuhan dan memburuknya gejala yang timbul dari penyakit ini.

Pendiri komunitas peduli skizofrenia Bagus Utomo mengatakan, di Indonesia, gangguan jiwa seringkali dipandang sebagai penyakit memalukan. Dengan stigma negatif dari masyarakat justru memberatkan penderita. Di lain sisi, informasi mengenai gangguan kesehatan kejiwaan tidak mudah didapat.

“Seringkali pasien dan keluarga juga frustasi karena sulitnya menemukan perawatan yang tepat. Sehingga kondisi pasien semakin parah,” ungkapnya.

Dia mengaharapkan ada sistem rehabilitasi pasien terintegrasi di DIJ. Selain juga upaya pemerintah menghilangkan stigma negatif dan mengurangi angka penderita gangguan kesehatan jiwa di Indonesia.

Penanggulangan masalah kesehatan jiwa tidak saja hanya pengobatan dari sisi fisik atau medis saja. Namun rehabilitasi psikiatrik, psikososial dan sosial juga penting. “Agar orang dengan skizofrenia dapat kembali produktif dan dinyatakan sembuh,” timpal Sekretaris Eksekutif Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK) UGM Diah Ayu Puspandari. (riz/ila/ong)