Setiaky/Radar Jogja
JOGJA – Perilaku seksual dan eksploitasi anak dalam prostitusi kian memprihatinkan. Jogjakarta sebagai kota wisata, disinyalir juga tak luput dari praktik bisnis seks online dan bahkan wisata seks yang melibatkan anak sebagai korban. Kondisi itu terjadi karena semakin terbukanya era informasi dan komunikasi melalui teknologi internet. Beragam kejahatan seksual pun semakin meningkat dan menyasar hampir semua lapisan masyarakat.

Koordinator Program Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin) Jogjakarta Suranto mengungkapkan, situs porno saat ini juga disajikan dengan beragam kamuflase yang menjebak. Dari beberapa temuanya, situs yang semula menawarkan konten-konten Islami pun kemudian justru membawa muatan pornografi.

“Karena itu, anak yang sebetulnya tak berniat bersinggungan dengan pronografi, pada akhirnya masuk perangkap dan tidak mustahil menjadi ketagihan. Jika orang tua tidak mengawasi, maka akan sangat bahaya,” katanya kemarin (28/7).

Ia juga mengatakan, mudahnya akses internet menjadi faktor penyebab tingginya tindak ekploitasi seksual terhadap anak, terutama melalui media sosial facebook yang di Indonesia sangat populer. Suranto menyebut, pada tahun 2012 saja pengguna medsos ini di Indonesia tercatat 55 juta orang.

Selain melalui dunia maya, hal yang memprihatinkan adalah wisata seks yang melibatkan anak di bawah umur. Kejahatan wisata seks juga disinyalir telah merambah di Indonesia, seperti yang pernah terungkap di Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Berdasar data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2010 hingga 2012 menunjukkan peningkatan yang mencengangkan. Tahun 2010 tercatat 410 kasus dan meningkat menjadi 480 di tahun 2011. Lalu pada tahun 2012 meningkat menjadi 673 kasus.

Dengan adanya kecenderungan peningkatan jumlah kejahatan seksual terhadap anak itulah, dialog bersama dalam rangka membangun gerakan memerangi eksploitasi seksual anak online, perjalanan dan wisata seks, digelar bersama berbagai lembaga terkait, baik ormas maupun lembaga pemerintahan seperti kepolisian.

Suranto mengatakan, dialog bersama yang juga menghadirkan kepolisian sebagai lembaga penegak hukum, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan puluhan ormas penggiat dan pemerhati masalah kejahatan seksual terhadap anak seperti Aisiyah DIJ, Fatayat DIJ, Rifka Anissa, Mitra Wacana, dan banyak lagi lainnya, digelar sebagai upaya membangun pemahaman bersama dan koordinasi kerjasama terkait upaya pencegahan dan penindakan kejahatan seksual, khususnya terhadap anak.

Panit UPPA Direskrimum Polda DIJ Iptu Lidwina Esti Wulandari menyebutkan, kepolisian sangat konsen terhadap kasus seksualitas dengan anak sebagai pelaku dan korban. Menurutnya, saat ini bahaya pornografi sudah sangat parah.

Ia berkaca pada sebuah kasus pencabulan dengan pelaku anak 10 tahun dan korbanya yang masih 7 tahun di DIJ. Meskipun kasus itu tidak dapat diproses hukum, hal itu sudah jadi indikasi bahwa bahaya pornografi sudah sangat memprihatinkan.

“Sudah sangat parah sekali, internet gampang terakses dan kemudian melakukan hal yang tidak boleh dilakukan,” ungkapnya. (riz/laz/ong)