HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
TERTIB SEJAK DINI: Anak-anak mengikuti pendidikan usia dini untuk lalu lintas yang diadakan di halaman Balai Kota Jogja di sela deklarasi Sigrak, kemarin (28/7).
JOGJA – Hak-hak anak terkadang terabaikan. Mulai dari hak untuk bermain, mendapatkan perlindungan, hak pendidikan dan lainnya. Memastikan hak-hak anak terpenuhi dan terbebas dari tindak kekerasan, Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (KPMP) Kota Jogja membentuk Satgas Sigrak (Siap Grak, Atasi Kekerasan).

Satgas Sigrak ini beranggotakan elemen masyarakat di kelurahan. Di antaranya tokoh pemuda, tokoh agama serta warga setempat. Kepala KPMP Kota Jogja Octo Noor Arafat menjelaskan, di Kota Jogja sebenarnya sudah terbentuk Forum Komunikasi Anak Jogjakarta (FAKTA). Namun, hal itu dirasa masih kurang. Terlebih untuk memaksimalkan peran masyarakat di lingkungan anak.

“Selama ini kasus kekerasan banyak ditangani oleh pemerintah serta lembaga swasta. Padahal keterlibatan masyarakat sekitar anak juga diperlukan,” ujar Octo disela deklarasi Sigrak di halaman Balai Kota Jogja, kemarin (28/7).

Dia menjelaskan, peran masyarakat sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan terhadap anak dan perempuan. Terlebih, masyarakatlah yang berhubungan langsung. “Mereka kami dorong untuk semakin aktif sekaligus siap menjadi relawan,” jelasnya.

Sigrak, lanjut dia, tak hanya mengantisipasi gejala-gejala yang mungkin bisa berujung terhadap terjadinya kekerasan. Sigrak juga akan memastikan hak-hak anak terjamin. Dari mulai hak untuk bermain, mendapatkan perlindungan, dan hak pendidikan.

“Sigrak terhubung dengan aparat kelurahan. Jadi, setiap ada temuan di lapangan langsung bisa berkoordinasi dengan kelurahan. Selanjutnya, disampaikan ke jajaran Pemkot Jogja untuk ditindaklanjuti,” tandasnya.

Seluruh personel Sigrak tersebut telah dibekali pelatihan selama tiga hari. Itu untuk penanganan setelah terjadi kekerasan. Satgas ini bisa juga menjadi pintu pertama di tiap wilayah jika terjadi tindak kekerasan yang melibatkan anak dan perempuan.

“Dengan satgas ini diharapkan bisa melakukan deteksi dini kasus kekerasan dalam rumah tangga baik pada anak maupun perempuan termasuk pada laki-laki,” katanya.

Setiap kelurahan akan memiliki Satgas Sigrak tersebut. Para anggotanya juga dilatih untuk melakukan konselor dengan korban kekerasan dan melakukan pendampingan terhadap korban. Selama ini sudah ada lembaga mitra keluarga di kecamatan, sehingga satgas ini bisa bekerja sama.

Saat peluncuran ini, juga bersamaan dengan Hari Anak Indonesia. Ratusan anak-anak pun terlibat dalam perayaan tersebut. Mereka menampilkan pentas seni, ada pula yang mengikuti pendidikan usia dini untuk lalu lintas. Ini terlihat di halaman balai kota.

Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Bimbingan Keselamatan Dinas Perhubungan Kota Jogja Sugeng Sanyoto mengatakan, pengenalan keselamatan berlalu lintas harus ditanamkan sejak dini. “Meskipun usia mereka masih kecil, namun mereka sudah menjadi pengguna jalan, misalnya saat mereka berangkat ke sekolah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, kegiatan sosialisasi keselamatan berlalu lintas kepada siswa sekolah dasar dan taman kanak-kanak dan PAUD ini sudah digelar secara rutin. Sejak dua tahun lalu bekerja sama dengan kepolisian. (eri/ila/ong)